Posted by : Admin Dinarpus

  • 10 April 2025

CAHAYA HIJAU DI RUMAH TUA

Cerpen karya : Aulaya Ziana Aqila

MTs Negeri 1 Kendal

 

Pernahkah kalian mendengar tentang kisah peri? Kalian pasti mengira semua itu hanyalah mitos. Awalnya kami juga berfikir begitu hingga suatu ketika saat ada setitik cahaya hijau yang menyala dari dalam rumah tua yang membuat kami masuk ke dalam dunia mereka.


Bel telah berdering menandakan sekolah telah usai aku berjalan melewati koridor dengan bersenandung riang,tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dengak keras

“Hai Aulaya mengapa kamu meninggalkan kami?”Ucap Naim dengan memasang wajah garangnya. Aku lihat teman-temanku yang lain sepertinya juga kesal denganku,

“Salah sendiri kenapa kalian lama sekali?” Sebetulnya aku juga kesal dengan mereka

“Hey Aulaya kenapa malah kamu yang kesal sengan kami, apa kamu lupa kita ada janji untuk pergi ke festival lampion”. Oh benar aku lupa aku mempunyai janji dengan mereka

“Maaf,hehe aku lupa, ngomong-ngomong jam berapa festival itu dimulai?” Zahra menatapku sambil menghela nafas

“Aduh kamu ini memang sudah tua ya, acaranya akan dimulai jam sebelas malam”.

“Oh apakah kalian sudah menyiapkan lampionnya?”.

“Sudah dong pastinya”. Zahra menatapku dengan wajah sombongnya, aku menatapnya dengn tatapan kesal

“Huh kenapa kalian tidak mengajak ku?”

“Hey kamu lupa ya, aku sudah mengajakmu tapi saat itu kamu sedang pergi, tapi tenang aku sudah menyiapkanya untukmu”

“Wahhh Zahra kamu sangat baik, ayo sekarang kita ke lapangan”
“Hey Naim, Aul apakah kalian tau cerita tentang rumah tua yang ada di dekat lapangan, rumah tua itu sangat menyeramkan, dari cerita warga disini dari dalam rumah itu sering terlihat cahaya hijau yang memancar ke halaman rumah itu. Saat warga ingin mendekati cahaya itu tiba tiba cahaya itu menghilang jadi banyak yang mengira itu ulah hantu”.

Ini sudah malam dan tiba tiba Zahra menceritakan tentang hantu sangat menjengkelkan

“Zahra jangan menakut-nakuti kami ini sudah malam, mungkin itu hanya cerita agar anak kecil tidak main ke halaman rumah itu karena banyak semak-semak beduri” Kataku dengan sedikit mencubit lengan Zahra
“Aw sakit Aul, tapi sepertinya cerita itu memang benar karena ibuku juga pernah melihat cahaya itu”. Saat aku dan Zahra sedang berdebat dengan Zahra tiba-tiba Naim memegang tanganku dengan erat

“Hei Aul, Zah lihatlah kedalam rumah itu”. Aku menoleh ketempat rumah tua itu berada ternyata apa yang dikatakan Naim benar, dari dalam rumah tua itu terlihat ada cahaya hijau yang memancar keluar

“Ayo kita lihat, sepertinya itu bukan hantu, hantu kan biasanya berwarna putih”

“Ya benar kata Aulaya, itu pasti bukan hantu. Ayo kita lihat.” Zahra menarik tanganku dan Naim. Langkah Zahra langsung dihentikan oleh Naim, dia menatap Zahra dengat mata yang berkaca-kaca

“Jangan Zahra, jika itu beneran hantu bagaimana?”

“kita tidak akan pernah tau jika tidak tidak mencoba mencari tau, jika itu memang benar hantu kita tinggal lari saja” Ucap Zahra dengan menarik tanganku dengan Naim. Kita masuk dengan perlahan karena di halaman rumah itu banyak sekali semak-semak berduri.

“Hey lihat itu seperti batu”.

“Wahh kau benar Zahra, batunya sangat cantik”ucapku sambil mengambil baru itu, saat ku sedang membersihkan sedikit debu yang menempel di batu itu tiba-tiba ada cahaya hijau yang menyilaukan mata, saat
kami membuka mata kami melihat tembok usang yang tadinya penuh dengan tanaman rambat itu berubah menjadi gerbang yang sangat indah dengan dipenuhi banyak bunga.

“Wahh cantik sekali,apa kalian mau mencoba masuk?” Tanya Naim pada ku dan Zahra,

“Ayo kita masuk” Zahra menarik tanganku an Naim. Malam itu adalah malam dimana kami menemukan kebenaran. Setelah melewati gerbang itu kami disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah,terdapat sungan panjang yang berair jernih juga disertai dengan air terjun yang sangat indah,banyak burung warna-warni yang berterbangan di atas kami seperti menyambut kedatangan kami di tempat ini, langit biru tanpa awan, sinar matahari yang terasa hangat saat menyentuh kulit, semua itu membuat kami lupa jika kami sudah tidak berasa di bumi yang biasa kami pijak suara dentuman keras menyadarkan kami dari lamunan.

“Kita dimana ini?”

“Aku juga tidak tau Naim di sini sangat-sangat indah”. Ucap Zahra sambil berguling-guling di hamparan rumput hijau,tiba-tiba ada cahaya kecil yang mengarah ke arah kami itu seperti kupu-kupu tapi sedikit lebih kecil,aku tertegun ternyata itu adalah peri. Sayap berwarna keemasan yang meninggalkan cahaya gemerlap jika sang peri itu terbang, gaun merah muda cantik yang sepertinya terbuat dari bunga mawar, rambut merah kecoklatan membuat tampilan peri itu sangat cantik, aku menghampiri peri itu dan menghentikan terbang peri dengan maksud ingin menanyakan kami sedang dimana dan bagaimana cara untuk kembali,tapi saat melihatku peri itu bersembunyi dibalik bunga matahari yang tumbuh di sekitar tempat itu,aku menghampirinya sambil sambil berkata

“Hey jangan takut kami tidak jahat”. Sang peri menampakkan dirinya dari balik bunga matahari

“Bagaimana biasa masuk kedalam sini?” Tanya peri itu. Zahra yang mendengar langsung berlari kearah kami.

“Jadi peri itu benar ada ya?” Tanya Zahra dengan wajah kaget

“Wahh,peri” teriak Naim sambil berlari.

“Peri itu benar adanya ya, aku masih tidak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang” kata Naim dengan melompat-lompat kesenangan. Sang peri keluar dari balik bunga matahari

“Ya aku memang benar ada,ayo jawab dulu pertanyaanku tadi,kenapa kalian biasa sampai ke sini?”

“Gara-gara batu ini” jawab Naim sambil menunjukan batu hijau tadi, setelah menunjukan batu itu wajah peri terlihat kaget.

“Dari mana kalian mendapatkan batu itu?” Dan aku pun menceritakan peristiwa yang membuat kami bisa sampai di sini

“Hahh Regi sangat ceroboh meninggalkan batu ini di depan Green Gate” dengan tatapan bingung aku bertanya pada si peri

“Siapa itu Regi dan apa itu Green Gate, hei dan satu lagi siapa namamu?” Peri itu menghela nafas.

“huhh jika bertanya satu persatu dong, Regi dia adalah peri penjaga Green Gate,Green Gete adalah nama gerbang yang tadi kalian lewati saat kalian ada di Hutan Peri lalu batu yang kalian temukan adalah kunci untuk membukanya dan namaku adalah Lily siapa nama kalian?”

Kami mulai memperkenalkan diri masing-masing.

“ngomong-ngomong Lily saat kami tiba di sini kami mendengar suara dentuman keras apa itu?” Lily terlihat kaget dan panik

“Oh tidak ayo pergi ke tempat persembunyianku di sini tidak aman” Lily mulai terbang dengan cepat dan kami langsung mengikuti Lily.

Kami berhenti di depan pohon besar dan Lily seperti mengucapkan sesuatu yang ku duga itu adalah mantra untuk membuka pintu untuk masuk ke dalam tempat persembunyian Lily, dan benar batang pohon yang keras itu mulai muncul ukiran-ukiran indah dengan sendirinya. Lily mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam, persembunyian itu sangat rapi dan nyaman. Setelah kami duduk Lily mulai bercerita tentang apa yang sudah terjadi.
Beberapa jam yang lalu saat para peri sedang menghias Hutan Peri untuk menyambut
datangnya musim semi tiba-tiba ada suara detuman keras dari Hutan Mati hutan itu banyak
terdapat semak-semak berduri dan monster aneh juga dari cerita yang beredah di aHuta Mati juga
terdapat sekumpulan troll berbadan besar dan berwajah menyeramkan,ternyata suara dentuman
keras itu berasal dari para troll yang mengamuk karena bahan makanan mereka habis dan mereka
berniat mendatangi Hutan Peri untuk merampas makanan yang ada di Hutan peri.Ratu Isabel
mendatangi Raja para troll yang bernama Zege untuk mengajak berdamai dan Ratu akan
membantu para troll dengan makannya asal para troll mau berkerja sama,Raja Zege menolak
penawaran itu karena para troll menganggap peri itu kecil dan lemah.Ratu Isabel ditangkap olah
para troll dan akan dijadikan sandera hal itu dikarenakan para peri tidak mau menuruti perintah
Raja Zege akhirnya para troll menguasai hutan peri dan para peri lain dijadikan pembantu oleh
mereka untungnya Lily berhasil kabur bersama kedua temannya mereka adalah Popy dan
Flora.Setelah Lily menceitakan hal yang terjadi kami berniat untuk membantu para peri,kam
mulai menyususn rencana dan melakkan latihan fisik hinnga belajar bagaimana menggunkan
pedang dan tombak,untungnya Popy pandai membuar senjata yang pas untuk kami,Setelah
beberapa hari kami pun siap untuk berperang melawan para troll jahat itu,dari rencana yang sudah
kami sepakati aku dan Lily akan menyusup kedalam Hutan Peri Flora,Naim dan Zahra masuk
kedalam Hutan Peri,setelah semua siap kami bergegas menuju Hutan peri.Setelah sampai disana
ternya banyak sekali rtoll yang menjaga gerbang masuk aku dan Lily mulai menyerang para troll akhirnya kami berhasil masuk didalam Huran Peri para troll yang menjaga tidak terlalu
banyak,sehingga kami tidak kesusahan.
Beberapa jam terlah berlalu akhirnya kami pun berhasil mengalahkan para troll dan
menyelamatkan para peri beserta Ratu Isabel,Rja troll Zege mangaku kalah dan tidak akan
menganggu para peri lagi,Rati Isabel berterimakasih pada kami karena sudah menyelamatkan
para peri dari para troll jahat,aku tersadar aku sudah terlalu lama beerada di dunai ini,kami harus
segera pulang aku menatap Ratu Isabel sambil bertanya “Ratu,bagaimana cara kami bias pulang?”
Ratu Isabel menjawab pertanyaan ku sambil tersenyum “Sebelum kalian pulang mati kita makan
terlebih dahulu aku akan menjelaskannya saatbkita sudah berada di ruang makan” kami menerima
menerima ajakan Ratu Isabel,saat sudah samapi diruang makan kami disuguhkan dengan banyak
hidangan yang lezat,saat semua sudah selesai makan aku bertanya kembali kepada Ratu Isabel
“Jadi Ratu,bagaimana cara keluar dari dunia ini?” sang Ratu menjawab pertanyaan ku sambil
tersenyum “Cara keluarnya sangatlah mudah kalian hanya perlu datang ke tempat dimana kalian
pertama kali sampai disini dan mengetuk tiga kali batang pohon itu” kami memutuhkan untuk
segera menuju ke pohon tempat kami pertama kali tiba disini, “Ayo aku antar” ucap Lily dengan
tersenyum manis “Kami permisi Ratu” ucap ku sambil sedikit menundukkan kepala yang diikuti
oleh Naim dan Zahra.Saat sudah sampai di pohon itu aku mengetuk batang pohon itu tiga kali
dan batang pohon itu langsung bermah menjadi gerbang penuh bunga yang indah “Jangan pernah
melupakan ku yaa” ucap Lily dengan mata yang berkaca-kaca sambil melambailan tangannya
pada kami,kami mengangguk dan membalas lambaian tangan Lily.Kami berhasil kembali dan
pengalaman itu menjadi pengalan yang tidak akan pernah kami lupakan.

 

----------- #KamisMenulis

Comments

Leave A Reply