"Hati yang Tak Luka"
Cerpen oleh : Savira Khoirunnisa
Siswi SMP N 3 Limbangan Satu Atap
Caca berlari dengan sekuat tenaga “Aduh....telat nich, pasti nich.” Sesampainya di depan
pintu kelas caca menata napasnya sebelum mengetok pintu dan bersiap dengan sejuta pertanyaan
yang akan diucapkan Pak Lintang.
Tok...tok...tok..” Assalamualaikum.” ucap Caca lirih.
“ Waalaikumsalam.” seisi kelas menyahut kompak dan semua mata tertuju padanya.
“ Sini sini” tanya Pak Lintang melambaikan tangan pertanda untuk Caca segera mendekat.
“ Kenapa lagi ini sudah tau kan, di jam Bapak kamu tidak boleh telat!”
“ Iya, Pak maaf, saya tadi harus bantu ibu saya bersih-bersih rumah sebelum berangkat “ wajah Caca memelas.
“ Bener?”
“ Iya pak, maaf Pak setahu saya Caca memang harus membantu ibunya beres-beres rumah, ibunya berangkat ke ladang selalu lebih pagi dari Caca” sahut Fani membela Caca.
Mata Pak Lintang melirik Caca.
“ Oke, apapun alasanmu kamu tetap salah, kamu saya tulis di buku pelanggaran Bapak, satu kali lagi kalau telat tetap akan bapak hukum!”
“Iya Pak, Terimakasih” sahut Caca.
Fani memesan bakso bersama Caca, menunggu baksonya datang mereka berdua duduk
berhadapan.
“ Ca aku sudah lapar nih, kenapa baksonya belum datang ya?“ tanya Fani sambil memegang perutnya.
“ Sabar dong sebentar lagi datang kok.” sahut Caca.
Gak lama kemudian bakso pun datang.
“ Ini pesenannya ya Neng” ibu kantin menyodorkan mangkuk berisi bakso dan mie yang masih mengepul asapnya.
“ Makasih bu “ jawab Fani dengan muka riang.
“ Ayo Ca santap mumpung masih panas nih” Fani mendorong satu mangkuk bakso untuk Caca.
“ Ih Fani pasti, pelan ngapa? kamu udah gak sabar ya mau menyantap bakso itu, kaya gak pernah makan aja” sahut Caca dengan gurau.
Dari sudut kantin Bu Partinah, terlihat Riska dan Nadin mengamati gerak gerik Caca dan Fani.
“ Din tuh lihat di bangku arah selatan ada Fani sama Caca lagi makan bakso berdua” bisik Riska.
“ Enak bener si Caca di traktir sama Fani tiap hari “ jawabnya ketus.
“ Caca kan miskin jadi bertemannya cari yang model Fani, dia kan orang kaya.” badan Riska membungkuk mendekat ke arah Nadin.
“ Eh Ris ayo ke kelas aku punya rencana besar!”
“ Ris, kita bagi tugas. Kamu jaga pintu, aku yang mengeksekusi.” Nadin bicara dengan nada rendah sambil waspada melihat keadaan sekeliling.
“ Oke Din aman cepetan keburu ada orang lain yang masuk.” seru Riska.
“ Oke, sudah kok, aman.” Nadin mengacungkan jempol tanda sudah beres.
“ Terserah kamu aja Din, aku ngikut kamu yang penting rencana ini berhasil membuat Caca sama Fani musuhan.” sahut Riska dengan wajah licik.
“ Udah nih ayo keluar kelas ke kantin dulu yuk.” Nadin berbicara sambil menarik tangan Riska.
Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi. Tet...tet...tet...semua anakpun berlarian menuju kelas masing-masing.
“Eh Ca, kurang satu jam pelajaran lagi kan kita?” tanya Fani sambil mengerjakan latihan soal bahasa Indonesia. Belum sempat Caca menjawab, Bu Lili terdengar memberi pengumuman.
“Waktunya tinggal satu jam, kita koreksi bersama-sama, silakan tukar jawaban kalian dengan teman sebangku!” perintah Bu Lili.
“Iya bu” seisi kelas sibuk menukar buku dengan teman sebangkunya, begitu pula Caca dan Fani.
“Eh bentar-bentar, aku lihat dulu, ada yang belumku isi tidak tuh!” tanya Fani sambil memiringkan tubuh kearah Caca.
“Udah penuh kok, khawatir amat!” jawab Caca santai.
Bu Lili perlahan mendekte jawaban dari nomor satu sampai dua puluh. Seisi ruangan sibuk memperhatikan dan menghitung ulang jawaban yang benar mengoreksi pekerjaan teman sebangkunya.
“Hitung yang benar, jangan sampai merugikan orang lain. Jangan lupa cara menilainya kalikan lima, jadi nilai maksimalnya seratus!” perintah bu Lili.
“Kalau sudah, kembalikan lagi kepada temanmu, setelah ini ibu akan mengabsen kalian untuk memasukkan nilainya, sudah siap ya?” tanya bu Lili.
Satu ruangan sibuk menukar buku lagi dan bu Lili mulai menyebut nama satu persatu memasukkan nilai tugas bahasa Indonesia di daftar nilai.
Bel berbunyi, tanda sudah waktunya pulang. Fani dan Caca sibuk membereskan buku masing-masing. Tiba-tiba Fani menyadari ada satu buku yang hilang, ia pun menanyakan kepada Caca.
“Ca kamu lihat buku diariku nggak?” tanya Fani sambil gelisah.
“Buku diari yang sampulnya biru?” jawab Caca.
“Iya, dimana ya kok tidak ada dalam tas?” Fanipun semakin gelisah.
“Aku nggak tau Fan” jawab Caca,
“Eh tunggu dulu temen-temen, ada nggak di tas kalian buku Fani, barang kali nyelip di tas kalian” teriak Caca bicara pada seisi kelas. Semua teman-teman Fani mengecek tas mereka masing-masing
dan ternyata tidak ada yang menemukan. Fani mulai curiga kepada Caca karena ia tidak mengecek tasnya sendiri.
“Ca, pinjem tas mu sini, kayaknya kamu lupa belum mengecek tasmu sendiri!” tangan Fani sambil memegang tas Caca.
“Hah? Kesambet apa kamu? Kamu nggak percaya sama aku ya? Aku nggak mungkin lah mengambil milikmu? Buat apa?” jawab Caca menjelaskan.
Fani mengeluarkan buku diarinya dari tas Caca, tanpa berkata-kata langsung menunjukkan ke arah Caca dengan pandangan penuh kecewa.
“Fan, percayalah, bukan aku yang mengambilnya.” jelas Caca memohon.
Fani menatap penuh amarah, ia langsung pergi meninggalkan Caca tanpa pamit.
Hampir seminggu berlalu, Fani duduk terpisah dengan Caca. Fani lebih memilih duduk bersama Riska di bangku pojok paling kanan depan, sedangkan Caca duduk bersama Nadin di pojok belakang. Fani masih kesal dengan Caca sehingga mereka masih belum saling bertegur sapa.
“Eh Fan, ngomong-ngomong kamu masih marahan dengan Caca ya?” tanya Riska memancing pertanyaan.
“Ya begitulah, lagi males aku sama dia!” jawab Fani singkat.
“Kenapa begitu? Bukannya ia temanmu yang paling deket!”
“Aku nggak mau berteman dengan pembohong!” Fani menjawab sambil melirik arah Caca.
“Diakan cuma mengambil buku diarimu, tidak lebih!”
“Mungkin kalau menurut kamu itu biasa, tapi bagiku itu sebuah hal berharga, makanya aku paling marah kalau sampai lepas dari tanganku.” Jawab Fani ketus.
Disudut lain Caca terlihat sedang berbincang dengan Nadin.
“Ca, tugas dari pak Lintang sudah kamu selesaikan?” tanya Nadin.
“Sudah, semalem kuselesaikan, punyamu sudah?” Caca bertanya balik.
“Ya sudah dong, makanya aku tanya ke kamu.” Nadin tersenyum.
“Ku kira kamu belum mengerjakan, takutnya kamu nanti dihukum pak Lintang, ih… serem ih.” lanjut Nadin sambil mengejek Caca.
“Ih jangan sampai lah, ngeri aku kalau berurusan dengan pak Lintang.”
“Hust, jangan kenceng-kenceng nanti ada yang denger.” ucap Nadin sambil menutup mulut.
Tet…tet…tet… bel pulang berbunyi.
Semua anak bergegas keluar ruangan, namun Fani masih sibuk dengan catatan materinya. Selama pelajaran Fani hanya sibuk ngobrol dengan Riska. Tanpa sepengetahuan Fani, Caca menunggu di
luar kelas.
“Tunggu disini aja lah.” bisik Caca dalam hati. Beberapa saat kemudian terdengar suara hentakan sepatu mendekati pintu keluar kelas, tidak lama Fani pun muncul di balik pintu.
“Selamat ulang tahun Fan.” Caca menyodorkan tangan untuk memberi selamat. Fani tidak berekspresi apapun, mukanya datar dan ia langsung meninggalkan Caca. Caca pun mengikuti untuk
berjalan menjauh dari arah Fani.
Disaat langkah yang kesepuluh, Fani memanggil Caca.
“Ca…” Caca berhenti melirik ke arah Fani, Fani mendekat ke arah Caca dan seketika ia memeluk tubuh Caca dengan erat.
“Maafin aku ya.” air mata Fani menetes di pundak Caca.
“Seharusnya aku yang minta maaf.”
“Yang salah bukan kamu Ca, yang salah itu aku, aku udah nuduh kamu yang macam-macam.”
“Iya, sebelum kamu minta maaf, aku sudah maafin kamu kok, lain kali kalau kamu merasa ada yang kurang atau tidak enak tentang perilakuku, tolong bicara, biar tidak ada curiga.”
Mendengar perkataan Caca, Fani hanya mengangguk.
“Makasih juga kamu selalu ingat ulang tahunku, ternyata mereka tak pernah berteman dengan tulus seperti kamu.” jawab Fani,
“Makasih juga sudah maafin dan percaya sama aku.”
Mereka memulai pertemanannya lagi setelah sempat terluka. Tapi bagi Caca berteman dengan Fani tak pernah merasa kan ada hati yang terluka.
“Em, kenapa sih kamu segitu marahnya saat diarimu hilang? Apa ada hal penting didalamnya?” tanya Caca penasaran.
“Iya, diari itu sangat penting untuk ku, karena berisi banyak kenangan cerita keluarga yang malu juga jika sampai terbaca orang lain.”
“Oh begitu ya, maaf deh aku nggak akan paksa kamu cerita semua, meskipun kamu sahabat karibku. Aku paham kok, pasti isinya sangat pribadi, semoga kamu selalu bisa menjaganya ya,”
Caca tersenyum menenangkan Fani.
Fani hanya tersenyum, sambil bergandengan tangan mereka pulang menuju rumah.
“Maafkan aku Ca, tidak bisa menceritakan semuanya kepadamu.” bisik Fani dalam hati.
“Buku ini adalah hadiah ulang tahunku waktu aku berusia sepuluh tahun. Di lembar pertama diariku berisi harapan dan doa yang ditulis langsung oleh ayahku.
"Nak, selamat ulang tahun…
Semoga apa yang menjadi harapan dan cita-citamu semua akan tercapai. Ayah ingin kamu
menjadi gadis yang ceria, mandiri, cerdas, dan sukses. Maafkan ayah yang tak bisa
memberimu apa-apa, hanya diari ini yang dapat ayah berikan, gunakan untuk mengukir
sejarah hidup hingga kelak kamu dewasa. Pesan ayah satu, jangan pernah menyakiti dan
merepotkan orang lain. Ayah janji ayah akan selalu ada untukmu.
Ayah selalu menyangimu, selamanya."
Lembar berikutnya berisi cerita semua kenanganku bersama ayah dan ibu. Hingga sampai diseparuh halaman diariku tak bisa kutuliskan lagi dengan hal-hal indah yang sama karena kini ayahku sudah
tak lagi bersama kami, ia telah memiliki kebahagiaan dengan keluarga barunya. Diariku adalah salah satu harta kebahagian yang kumiliki. Jika aku sedang rindu dengan beliau, yang aku lakukan
hanya membaca diari untuk sekadar mengenang kebersamaan yang entah sampai kapan akan aku dapatkan lagi. Itulah kenapa aku sangat menjaganya.
#KamisMenulis
Comments