"Sahabatku?"
Cerpen oleh : Della Jilena Singarimbun
Siswi SMP Negeri 1 Weleri
“Dasar anak miskin! Bodoh! Kamu itu mana pantes sekolah di sini!"
"Lagian kok bisa-bisanya ya, si anak pinter kelas sebelah itu, sudi sahabatan sama ni anak! Bertahun-tahun lagi!"
"Tau tuh, apa nggak malu ya dia?" "Huftt...sudah biasa," hanya begitu pikir Kayla saat mendengar semua cercaan yang tertuju padanya.
Memang, setelah beberapa minggu bersekolah di SMP Nusa Bangsa ini, banyak sekali orang-orang yang seperti menolak kehadirannya. Ia dibully dan dikucilkan karena berasal dari keluarga yang memang kurang mampu, dan dirinya kurang bisa mengikuti pelajaran. Untungnya, walau kesusahan bergaul di sini, Kayla masih mempunyai seorang sahabat yang selalu bersama dengannya. Dialah Elin, sahabat dekat Kayla. Sejak kecil mereka selalu bersama, sayangnya, di SMP ini mereka mendapat kelas yang berbeda.
Kayla akhirnya memutuskan untuk tidak mendengarkan hinaan-hinaan itu, dan segera pergi meninggalkan kelas saat bel istirahat berbunyi. Kayla bergegas ke kantin untuk menemui Elin.
"Hai, Kayla, nanti sore mau main bareng?"
"Hmm ... boleh.” Setelah percakapan singkat itu, mereka lanjut berbincang dan memakan makanan yang telah dipesan.
Kayla merasa bersyukur karena Elin selalu ada di sisinya. Elin adalah anak dari seorang dokter bedah profesional dan seorang wanita karir yang sangat sukses. Sudah jelas keluarganya memiliki aset yang berlimpah. Karena hidupnya dikelilingi orang-orang yang jenius, tentu Elin memiliki kecerdasan yang di atas rata-rata pula. Di SD pun Elin berhasil meraih segudang prestasi, bahkan, bisa dibilang mengikuti olimpiade matematika adalah salah satu hobinya. Elin tentu selalu menjadi primadona di lingkungannya. Elin itu cantik, kaya, jenius, berbakat, dan pekerja keras.
"Bukankah dia sempurna?" begitu pikir Kayla. Sampai-sampai, banyak orang yang menganggap Kayla tidak pantas berteman dengan Elin. Murid-murid di SMP mereka juga banyak yang berpikir seperti itu. Kayla menyadarinya, dan jadi sering merasa rendah diri di hadapan Elin. Namun, Elin tidak pernah berpikir seperti itu, ia selalu tulus berteman dengan Kayla. Bisa dibilang Kayla adalah sahabat sekaligus teman Elin satu-satunya, karena Elin orangnya pendiam dan tertutup. Mereka berdua selalu bersama sejak kecil, bahkan, mereka hampir tidak pernah bertengkar. Setelah bel berbunyi sekali lagi, Kayla dan Elin segera kembali ke kelasnya masing-masing. Tetapi, saat hendak masuk ke dalam kelas, tiba-tiba Kayla didorong oleh seorang murid perempuan hingga terjatuh.
“"Hahahaha, rasain tuh, dasar anak miskin! “
Kayla hanya kembali berdiri dan menghela nafas.
Ya, lagi-lagi itu Intan, seorang anak menyebalkan yang paling sering mengganggunya. Ia adalah anak dari seorang juragan beras yang kaya raya. Kata teman-teman masa kecilnya, Intan memang dari dulu suka cari perhatian dan cari masalah. Intan juga suka membully anak-anak dari kelas lain, tetapi, entah mengapa, Intan paling sering mengusik Kayla. Seolah Intan ada dendam pribadi pada Kayla. Diketahui, Intan juga sering cari perhatian pada Elin, karena Elin adalah anak yang sangat pintar. Sepertinya pun Intan ingin menjauhkan Elin dari Kayla. Kayla hanya bisa meneguhkan hati, harus menghadapi orang-orang seperti itu setiap hari. Singkatnya, kini sudah kurang lebih 2 bulan sejak hari pertama masuk sekolah. Dan Kayla tetap mencoba sabar menghadapi segala perundungan yang ia dapat.
Elin pernah berkata ingin membantu, tetapi Kayla melarang, Kayla khawatir sahabatnya itu akan ikut dijadikan sasaran.
Siang ini, saat waktu istirahat kedua, Elin dan Kayla hanya sedang mengobrol santai.
"Hmm ... udah fix ya, kamu bakal ikut olimpiade sains itu?" tanya Kayla.
"Iya lah, semua berkasnya juga udah aku siapin, besok dikumpulkan," jawab Elin,
"Aku bener-bener pengen ikut olimpiade itu, apalagi ini tingkat internasional."
"Harus banget pergi ya … Tapi, nanti aku kesepian dong ...," Kayla berkata dengan nada sedih, "Mana aku juga nggak punya handphone, kita nggak bisa komunikasi deh ..."
"Ih, 3 minggu doang kok, aku kan nggak pergi selamanya."
"Iya sih ...” Tanpa mereka berdua sadari, percakapan mereka itu tidak sengaja didengar oleh Intan. Intan masih merasa kesal dan heran, bisa-bisanya anak istimewa seperti Elin mau berteman dengan Kayla. Intan tiba-tiba terpikir sebuah ide, dia ingin melihat Elin dan Kayla bertengkar.
"Hanya iseng saja," begitu pikir Intan. Ia tidak tau keisengannya itu akan menyebabkan masalah besar. Intan pun mencoba memikirkan cara untuk menjalankan rencananya. Malam harinya, Intan iseng mendatangi rumah Elin. Ingin mengobrol dan mencoba lebih dekat dengan Elin.
"Hai Elin, boleh aku mampir sebentar? Kebetulan sedang lewat daerah sini." Kata Intan sambil tersenyum begitu manis.
"Hmm.... Silahkan." Jawab Elin dengan cuek lalu mempersilahkan Intan masuk ke dalam rumahnya.
Intan kini menduduki sebuah sofa di ruang tamu yang terasa sepi. Kedua orang tua Elin sedang pergi ke luar kota, dan kakaknya memang tinggal jauh dari mereka, jadi anak itu hanya bertiga dengan satu orang asisten rumah tangga. Sembari menunggu Elin yang sedang mengambil camilan, Intan melihat-lihat setiap sudut ruang tamu yang megah itu. Dekorasi ala Eropa dipadukan dengan warna emas, nuansanya terasa elegan. Elin cukup lama di dapur, Intan mulai bosan. Saat sedang memutar kedua bola matanya, sebuah map berisi tumpukan kertas-kertas yang cukup banyak tertangkap oleh penglihatannya.
"Apaan tuh?" Intan berkata lirih.
"Hm? Apaan emang?" Tanpa disadari oleh Intan, Elin ternyata sudah berada di dekatnya sambil menaruh 2 gelas es teh di atas meja.
"Eh, Elin, bikin kaget saja!" sahut Intan,
"Itu loh, tumpukan kertas itu." Jawab Intan seraya menunjuk map yang ia lihat. "Oh, itu berkas-berkas untuk seleksi olimpiade besok, sebentar ya, aku masih mau ambil risol mayonya."
"Hmm." Lalu Elin kembali pergi.
"Jadi itu dokumen seleksi olimpiade yang dibicarakan tadi ya? Hmm ...," Batin Intan, ia jadi ingat ide "iseng"nya tadi pagi. Intan terpikir ide yang menurutnya bagus untuk membuat Elin dan Kayla bertengkar. Tanpa memikirkan resiko jangka panjangnya, Intan bergegas mengambil map merah itu, dan secara acak menyobek beberapa kertas yang ada di tengah. Intan berencana akan memfitnah Kayla nantinya. Walau ia dan Elin tidak terlalu dekat, sedangkan Kayla adalah sahabat Elin, Intan yakin rencananya akan berhasil. Karena cukup terlihat, Elin orangnya mudah terbawa emosi, dan saat marah ia tidak bisa berpikir jernih. "Maaf lama, nih risolnya."
"E-eh iya, terima kasih," jawab Intan agak gugup,
"Untung saja tidak ketahuan," batinnya lega. Lalu mereka mengobrol sebentar. Setelah sekitar dua puluh menit, Intan pamit pulang. Sebagai formalitas, Elin mengantarnya ke gerbang.
"Hufft, akhirnya dia pulang juga," Elin menghela nafas, sebenarnya dia cukup benci bersosialisasi, karena dia adalah seorang introvert. Apalagi malam-malam begini, mana harus berpura-pura ramah. Dia terpaksa menerima tamu karena takut dianggap tidak sopan.
Biasanya Elin hanya betah mengobrol dengan sahabat baiknya, yaitu Kayla. Tadi sore Kayla juga sempat bermain ke rumahnya. Setelah kepulangan Intan, jam sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam. Elin kembali masuk ke dalam rumahnya, ia makan malam dengan lauk seadanya, sempatkan belajar sebentar, lalu segera tidur. Elin merasa sangat lelah sebab tadi dia ada kegiatan ekstrakurikuler sampai sore. Karena sudah mengantuk, Elin tidak mengecek lagi berkas-berkasnya yang harus dikumpulkan esok tepat jam setengah tujuh pagi. Esoknya, sekitar pukul enam pagi, Elin baru saja selesai sarapan dan bersiap pergi ke sekolah. Ia berangkat ke sekolah dengan diantar oleh supir pribadinya. Paginya ia pun tidak mengecek lagi berkas-berkas tersebut. Sesampainya di sekolah, Elin segera meletakkan tas ranselnya di dalam kelas lalu segera bersiap mengumpulkan berkas-berkas itu ke kantor guru. Setelah tiba di depan kantor guru, Elin terlebih dahulu duduk di sofa yang tersedia, sembari menunggu gilirannya dipanggil. Ia meletakkan map yang bertuliskan identitas sang pemilik yaitu "Evelinna Marianne Setyaningrum" tersebut di atas meja kecil. Karena bosan menunggu, Elin akhirnya membuka map berisi hasil cetakan berkas yang sudah dua hari tidak ia sentuh itu. Ia mencoba mengecek lembar demi lembar tumpukan kertas tersebut, dan terkejut ketika mendapati beberapa dokumen penting yang ada di bagian tengah telah robek.
"A-astaga! Bagaimana bisa? Perasaan waktu itu aku sudah memasukkan dan menata semuanya dengan sangat hati-hati. Tidak ada yang robek!" "Apalagi bekas robekan ini terlihat seperti disengaja!" Batin Elin panik dan langsung lemas.
"Lalu sekarang bagaimana!? Apa aku masih bisa ikut olimpiade ini jika berkas-berkas yang harusnya dikirim hari ini telah rusak?" Tingkah Elin yang terlihat gusar membuat beberapa murid lain di situ memperhatikannya. Sebagian bertanya apakah ada masalah, namun Elin berkata jika tidak ada apa-apa. Saat namanya dipanggil, Elin melangkah masuk ke dalam ruangan dengan lesu. Setelah duduk di bangku kecil, Elin kembali membuka mapnya.
"Evelinna, kamu anak yang katanya jenius itu, kan? Kami antusias untuk melihat kemampuanmu dalam olimpiade ini," salah seorang guru wanita mengajaknya bicara. "Kenapa terlihat lesu? Apa kamu sakit? Sini, berikan berkasnya pada saya untuk dikirim langsung ke China," lanjut guru itu.
"Mm ... Mohon maaf Bu ... A-anu ..." Elin tertunduk.
"Kenapa?" Ibu guru yang terlihat masih muda itu menaikkan satu alisnya, heran dengan tingkah Elin.
"Maaf Bu, sejak minggu lalu saya sudah mempersiapkan berkas-berkasnya, dan saya simpan di dalam map ini. Memang dari kemarin tidak saya cek lagi, tapi saya yakin saat saya masukkan ke dalam map semua berkasnya baik-baik saja. Namun, saat barusan saya cek, ternyata ada beberapa bagian penting yang entah bagaimana robek. Bagaimana ya Bu ..." Cerita Elin sambil menyerahkan map yang dipegangnya.
"Astaga ... Kok bisa sih, kenapa tidak kamu cek dulu kemarin?" Keluh sang guru sambil mengamati dokumen yang diberikan oleh Elin.
"Sekali lagi mohon maaf, Bu, kemarin saya lelah sehingga tidak ingat,” Elin terlihat menyesal, tetapi entah kenapa hatinya sangat yakin pasti ada yang sengaja merobeknya.
"Sekarang bagaimana ya? Apa saya tetap bisa mengikuti olimpiade tersebut?" lanjutnya.
"Hmm ... Sayang sekali, sepertinya tidak bisa, karena dari pihak penyelenggara meminta berkas resmi itu harus dikirim hari ini juga, sudah tidak ada waktu lagi," jelas guru itu. Elin menunduk dengan mata berkaca-kaca, pasalnya ia sangat ingin mengikuti olimpiade ini dan sudah mempersiapkannya sejak lama. Begitu pula dengan orang tua Elin, mereka sangat ingin anaknya bisa ikut.
"Yasudah Bu, maafkan keteledoran saya karena tidak mengeceknya dulu kemarin. Sayang sekali saya tidak bisa mengikuti olimpiade ini," akhirnya Elin menjawab dengan penyesalan.
"Ya, baiklah kamu boleh keluar," Guru itu tidak marah, tapi mungkin juga agak kecewa, cerita tentang kejeniusan Elin sudah banyak diketahui, dan ia secara pribadi juga ingin melihat kemampuan Elin pada olimpiade tersebut.
"Baik Bu, terima kasih." Elin keluar dengan wajah sedih bercampur marah,
"Mama dan papa pasti kecewa," begitu pikirnya. Elin pun pergi menjauh dari ruang guru, lebih tepatnya ia pergi ke arah kelas. Tadi Kayla mengabari bahwa para guru sedang ada rapat, jadi beberapa kelas kosong. Karena jarak yang cukup jauh dari ruang guru ke ruang kelas, Elin tenggelam dalam pikirannya. Ia mengambil setiap langkah dengan penuh amarah. Elin yakin seribu persen, bahwa pasti ada yang merusak berkasnya itu. "Tapi siapa? Apakah orang itu merusaknya saat ku tinggal ke toilet tadi pagi? Ataukah sudah dari lama?" Elin menghembuskan nafas dengan kasar lalu berhenti sejenak, ia tidak bisa berfikir jernih. Bayang-bayang kekecewaan menghantuinya, apalagi tentang ekspektasi kedua orangtuanya, mereka berdua bisa marah besar mengetahui anaknya itu tidak jadi mengikuti olimpiade hanya gara-gara berkas rusak.
"Ck, sialan kau. Aku pasti akan memberimu pelajaran!" umpat Elin lalu lanjut berjalan. Lagi-lagi tanpa ada yang menyadari, saat Elin berjalan ke luar ruang guru dengan wajah kesal, ia sudah diawasi oleh Intan dari lantai atas. "Waktunya menjalankan rencana," Intan menyeringai senang. Sebelum Elin sampai di tangga, Intan berpura-pura menghampirinya dengan membuat wajah seolah-olah sedang panik.
"Elin! Kamu sudah kembali? Bagaimana pendaftaran dan seleksinya? Apa semua baik-baik saja!?" Intan terengah-engah. Ia bertanya dengan nada sok peduli.
"Ck, tidak." Jawab Elin dengan muka masam. Di sisi lain ia merasa heran dengan Intan.
"Soalnya t-tadi, aku tidak sengaja dengar Kayla bilang sudah menghancurkan dokumenmu!" akting Intan memang sangat menyakinkan, "Dia juga bilang sebenarnya ia iri denganmu, karena kau jenius dan berprestasi. Karena itu ia sempat melarangmu pergi. Dia lelah dibanding-bandingkan oleh orangtuanya."
"A-APA!?? Sungguh? Berani-beraninya dia, kukira kami adalah sahabat? Tapi kenapa dia begitu??" entah kenapa Elin yang sedang emosi percaya begitu saja dengan perkataan Intan. Intan mengangguk cepat seraya berkata,
"Ya, tadi aku dengar sendiri." Bisa dilihat, Elin benar-benar marah dan terdiam sekarang. Tiba-tiba Elin berjalan cepat menaiki tangga, namun ia melewati kelasnya begitu saja, dan terus berjalan beberapa langkah lagi. Sesampainya di depan kelas Kayla, Elin membuka pintunya dengan dobrakan keras. Menarik perhatian sebagian besar siswa kelas itu, tapi mereka hanya terdiam keheranan karena ia memasang ekspresi menakutkan. Dengan langkah dihentakkan, ia menuju bangku Kayla sambil bermuka masam. Sesampainya di depan Kayla, yang duduk sendirian karena tak punya teman, Elin menatap matanya dengan penuh benci.
"Eh, Elin? Ada apa?" Kayla heran dengan tingkah Elin.
"Kayla! Apa-apaan kamu ini!? Kukira kita adalah sahabat?" Bentak Elin sambil mencengkram bahu Kayla.
"H-hah?"
"SIALAN, BERANI-BERANINYA KAU MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU! Kau tahu kan ... AKU DAN KEDUA ORANGTUAKU SANGAT MENGHARAPKAN OLIMPIADE ITU! JIKA KAU IRI DENGANKU SETIDAKNYA TAK PERLU BERNIAT MENGHANCURKANKU DARI BELAKANG! Apa selama ini kau berteman denganku hanya untuk memanfaatkanku!?" Elin berteriak dan tidak bisa mengendalikan emosinya, membuat seisi kelas itu juga ikutan ribut.
”A-apa maksudmu, Elin? Menghancurkanmu dari belakang bagaimana?" Kayla semakin kebingungan, ia bertanya dengan lirih. Kedua matanya juga mulai berkaca-kaca karena takut.
"HALAH, JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU! Kau yang merusak berkasku agar aku tidak bisa ikut olimpiade internasional itu, kan!? Toh, hanya kita berdua juga yang pernah membahas tentang hal itu." Elin belum juga menurunkan nada bicaranya, dan belum juga melepaskan cengkramannya.
"Apa!? Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Buat apa juga? Bukankah kita adalah sahabat, Evelinna?" Kayla hampir menangis sekarang, dan tidak seperti biasanya, ia memanggil nama depan Elin secara lengkap.
"Ck, maling juga mana ada yang mau mengaku," kata Elin sarkastik,
"Dan justru karena itu, Kayla Husna Prameswari, kalau kita memang sahabat, seharusnya kau tidak akan berbuat hal seperti itu kan!? Padahal dari dulu hanya aku yang sudi berteman denganmu ..." Tetapi akhirnya Elin melepaskan pundak Kayla. "Tapi aku benar-benar bukan pelakunya! Kenapa kau bisa menuduhku begitu saja?! Tolong jelaskan padaku, Evelinna," sangkal Kayla.
"Terserah kau saja lah! Dan mulai hari ini, kita bukan lagi sahabat! Aku tidak akan Sudi bicara padamu lagi! Biar saja kau kesepian, dasar anak menyedihkan!" Elin mengakhiri keributan itu dengan kata-kata yang cukup menyakitkan, ia agak mendorong tubuh Kayla ke belakang sebelum pergi. Kayla membeku, namun beberapa saat kemudian air mata mengalir membasahi wajahnya, dan ia terisak. Sementara, Intan yang sedari tadi berdiri di dekat pintu ikut terdiam, ia tidak menyangka pertengkaran mereka akan jadi separah itu. Dan ia tidak berpikir Elin bisa jadi semarah itu. Seminggu berlalu sejak kejadian itu, Elin dan Kayla benar-benar tak saling bicara lagi. Walau begitu, Intan juga tetap tidak bisa dekat dengan Elin. Semenjak kejadian itu juga sepertinya Kayla semakin dijauhi, serta Intan menjadi ditakuti. Gosip tentang kejadian itu telah menyebar ke seluruh sekolah, tetapi para guru tidak ambil pusing, karena mereka juga tidak ingin cari masalah dengan keluarga Elin. Dan benar saja, orang tua Elin sangat marah sebab anaknya tidak jadi mengikuti olimpiade matematika hanya karena alasan yang menurut mereka sangat remeh, uang sakunya pun dipotong selama dua minggu. Elin semakin dendam kepada Kayla. Kini malah sudah tiga minggu lebih Elin dan Kayla saling cuek. Elin lama tak mendengar kabar tentang Kayla, dan ia merindukannya. Elin sudah tak terlalu memikirkan olimpiade itu, dan ia mulai sadar, bahwa sangat mungkin yang dikatakan oleh Intan itu memang hanya kebohongan.
Kenapa juga ia percaya begitu saja pada sang pembuat onar? Saat itu Elin ceroboh karena dikuasai emosi. Elin juga dinasehati oleh kakaknya, Kak Evan, yang heran melihat sang adik murung beberapa hari ini. Kak Evan menyarankan agar Elin segera minta maaf kepada Kayla, tidak baik lama-lama bermusuhan, apalagi mereka sahabat sejak kecil. Elin pun mengerti dan berniat untuk segera berbaikan dengan Kayla.
Esok harinya, lebih jelasnya hari Minggu pagi, Elin datang ke rumah Kayla. Elin mengetuk pintu dari rumah yang sederhana itu, dan seorang lelaki dewasa membukakan pintu.
"Ah, silahkan duduk dulu, kamu temannya Kayla, kan?" kata lelaki tersebut ramah.
"Iya, apakah Kayla ada di rumah? Tolong katakan Elin ingin bertemu," balas Elin.
"Maaf, tapi Kayla bilang sedang tidak bisa diganggu." Lelaki itu menunduk prihatin, kemungkinan ia tahu tentang masalah Elin dengan Kayla.
“Apa dia benci padaku?” batin Elin.
"Ah, yasudah kalau begitu, maaf mengganggu waktunya. Tapi, bisa tolong berikan surat ini padanya? Siapa tahu dia mau membacanya nanti." Kata Elin seraya menyerahkan sebuah amplop putih.
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih banyak ya, Kak." Lalu Elin meninggalkan pekarangan rumah itu. Selama perjalanan pulang, rasa kesal Elin pada Kayla malah muncul kembali. Entah kenapa Elin merasa Kayla sombong, karena Kayla bahkan tidak mau bertemu dengannya. Walaupun Elin tahu yang salah memang dirinya.
"Tapi nampaknya Kayla benar-benar tak sudi melihat wajahku lagi," begitu pikir Elin. Elin merasa usahanya menjadi sia-sia. Esok harinya lagi, saat tiba di sekolah, sebenarnya Elin ingin mencoba minta maaf secara langsung pada Kayla dengan mendatangi kelasnya. Tetapi, kali ini egonya menang, karena merasa sudah ditolak mentah-mentah kemarin. Namun, sesaat sebelum pelajaran dimulai, ponsel Elin berdering dan bisa dilihat ada nomor asing yang mengirimkan pesan padanya. Elin pun membuka chat itu karena penasaran.
"Elin? Ini Kak Jingga, kakaknya Kayla. Kayla tidak bisa masuk sekolah hari ini. Tapi dia ingin bertemu denganmu lagi, bisakah tolong nanti ke sini? Ada sesuatu yang penting." Begitulah isi pesan tersebut. Elin mengernyit membacanya,
"Urusan penting apanya? Kemarin dia bahkan tak sudi melihat wajahku. Dan, dari mana Kak Jingga mendapat nomorku?" batin Elin kesal. Karena bel masuk sudah berbunyi, Elin tak membalas pesan itu dan langsung mematikan ponselnya. Namun entah kenapa selama pembelajaran berlangsung, Elin menjadi tidak tenang, firasatnya tidak enak.
"Tadi pagi kondisinya sempat membaik, tapi kemudian drop kembali. Sepertinya ia sangat ingin bertemu denganmu dulu, Elin. Sayangnya ...," cerita kakak sulung Kayla tersebut,
"Tadi pagi juga ia terlihat semangat sekali ingin segera ke sekolah dan berbaikan denganmu ..."
"Kayla ... Maafkan aku ..." Elin mulai ikut terisak.
"Bukan salahmu kok ... Yah, kalau sudah takdirnya, kita bisa apa?" Elin malah jatuh terduduk dengan air mata mengalir, ia benar-benar tak bisa percaya kalau Kayla sudah tiada. Kak Jingga mengusap-usap punggungnya dengan tatapan prihatin bercampur sendu.
"Apa kamu mau lihat dia sebentar? Sebelum dipindah ke kamar mayat..." Elin mengangguk walau hatinya semakin hancur. Saat masuk ke dalam ruangan, Elin melihat tubuh sahabatnya yang sudah pucat dan penuh perban.
Elin teringat semua kenangan mereka yang selalu bersama selama belasan tahun, ia masih menolak percaya, mengapa semuanya harus berakhir begini?
Memang sih, walau mereka tidak bertengkar, juga tidak menjamin Kayla tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini. Tetapi setidaknya kan mereka berdua bisa menghabiskan saat-saat terakhir tanpa penyesalan.
Semua air mata Elin tumpah begitu saja, kemudian ia menggenggam tangan Kayla untuk yang terakhir kali. Elin tertunduk dalam penyesalan yang terus menggerogoti hati mungilnya.
“Sahabatku? Kayla … Sahabatku satu-satunya … “
--------------
#KamisMenulis
Comments