Sang Malaikat Sahabat Alam
Cerpen karya : Zhabrina Nisa Putri Amira
Siswi MTs NU 02 AL MA’ARIF BOJA
Reno kembali mencari-cari sahabatnya di dalam hutan, berteriak memanggil namanya. Tapi kenyataannya, tak selirih suara pun menjawab panggilannya. Hati Reno seakan diiris-iris, air mata mulai menggenang di matanya. Reno kini hanya bisa menangis sejadi-jadinya, ia berteriak memanggil sahabatnya sekali lagi. Tak ada jawaban, sama seperti sebelumnya. Namun cahaya putih keluar dari sebuah tunas pohon yang ia tanam beberapa hari lalu.
Sedikit demi sedikit cahaya itu mulai membentuk tubuh sesosok gadis yang perlahan mendekat ke Reno dan berkata,
“Tolong jaga alam ini ya. Tugasku sudah selesai disini. Aku percaya pada mu, Reno sahabatku yang paling baik.” Suara itu semakin membuat Reno tenggelam ke dalam kesedihan.
“Iya, iya Camilla. Aku akan menjaga nya dengan baik. Ini adalah tugasku sekarang.” Ucap Reno dengan suara serak dan muka yang basah dengan air mata.
“ Aku janji, aku akan melindungi ini sebaik engkau yang menjaganya.”
Alam memang begitukan? Alam adalah keajaiban yang tak mudah dijabarkan dengan logis oleh akal manusia. Alam sangat indah, namun bisa sangat menyeramkan, banyak hal yang tak diketahui oleh manusia tentang alam. Mereka mempunyai seribu satu rahasia yang disembunyikan dari manusia. Ini adalah perjalanan Reno dan sahabatnya untuk membantu alam menyembuhkan lukanya. Tapi sahabatnya tinggal di dalam alam. Ada yang disembuyikan dari Reno?. Pertemuan mereka yang tak begitu direncanakan membuat mereka tak banyak mengetahui satu sama lain.
Reno Aslan Bagaskara, itu adalah nama dari anak laki-laki itu. Dia kutu buku, tak banyak bergaul dengan orang lain selain keluarganya, dan dia adalah anak yang sangat menyukai apa pun tentang alam. Apapun tentang alam dia akan sangat menanggapi dengan sangat antusias. Tinggi badannya kebih kecil dibandingkan dengan anak laki-laki sebayanya. Rambut pendek dengan poni kecil di depan. Dia memakai kaca mata, Reno hanya seorang anak rumahan.
Malam minggu 12 Desember 2020 Reno tak bisa tidur. Dia memilih untuk melanjutkan malamnya dengan terus terjaga. Malam itu di luar sedang hujan. Hujannya sangat deras, namun sangat menenangkan baginya. Di tengah-tengah hujan pandangan Reno terpaku pada suatu hal di luar rumah, yaitu seorang gadis mengenakan jubah hitam sedang menanam pohon. Entahlah, hampir tiga menit Reno menatapnya dengan seksama. Tiba-tiba gadis itu memutar badanya dan balik menatap Reno.
Reno yang kaget segera menutup tirai jendelanya, dia kaget bahkan langsung mematikan lampu kamarnya. Dia kebingungan harus apa. Reno tak bisa mengingat muka gadis itu dengan baik, tapi dia tau betul bahwa gadis itu tersenyum dan bahkan melambaikan tangannya. Sungguh, itu membuat Reno ketakutan, mengapa ada gadis ditegah hutan malam-malam begini. Di luar padahal sedang hujan, karena kejadian itu Reno memilih belajar malam itu. Ia merasa takut.
Sudah hampir seminggu kejadian itu, Reno masih takut dengan hutan yang berada di belakang rumahnya. Tapi dibalik rasa takutnya, Reno juga penasaran dengan gadis itu. Akhirnya pada Sabtu siang setelah dia pulang sekolah, ia membulatkan tekadnya untuk mencari gadis itu. Dia perlahan memasuki hutan, di sepanjang jalan ia menengok ke kanan dan kiri. Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba ia mendengar senandung kecil dari balik pohon. Reno langsung menuju sumber suara tersebut, dan benar saja di balik pohon itu ada seorang gadis berjubah hitam sedang menanam pohon.
“Hai, sedang apa kau disini,?” Tanya Reno sambil memegang bahu gadis tersebut, gadis itu berbalik badan dan tersenyum. Ia tak menjawab sepatah kata pun namun dia tiba-tiba mengulurkan tangannya dan berkata
“Hai, namaku Camilla Haston. Senang bertemu denganmu”. Reno yang kebingungan hanya bisa berjabat tangan juga dengan gadis itu lalu menjawabnya
“Ah..Iya. Namaku Reno Aslan Bagaskara.” Gadis itu langsung duduk dan tersenyum.
“Duduklah, aku tau ada banyak hal yang mau kamu tanyakan dan sampaikan padaku. Tak apa aku akan menjawabnya, aku tak keberatan.”
“Um, maaf aku tiba-tiba datang tak sopan seperti ini namun aku hanya ingin menanyakan sesuatu kok,” Ucap Reno yang sedang gugup.
“Apa yang ingin kau tanyakan Reno?” Tanya Camilla.
“Apa benar kamu yang datang ke belakang rumahku minggu lalu?”.
“Iya, itu aku kok. Maaf ya, pasti kamu takut kan? Maaf, aku hanya berniat menyapamu, tapi kamu malah langsung menutup jendela kamarmu,” Ucap Camilla
“Oh syukurlah, aku hanya tidak berharap kamu hantu. Soalnya aku takut dengan hantu” Reno menjawab dengan tersenyum sambil memegangi belakang kepalanya. Camilla tak bereaksi dan hanya tersenyum. Dari situlah mereka akhirnya berkenalan, bertukar cerita satu sama lain.
Sore itu Reno akhirnya pulang, setelah bercerita cukup panjang dengan Camilla.
“Sudah ya, aku mau pulang. Mama pasti sudah menungguku di rumah,” Reno berkata seperti itu sambil berdiri ingin beranjak pergi.
“Memangnya kamu ingat jalan pulang?” Ucap Camilla membuat Reno terdiam terpaku.
“Ah, iya ternyata aku tak ingat,” Ucap Reno sambil terkekeh.
Reno akhirnya sampai di belakang rumahnya, tentu saja Camilla yang mengantarkannya.
“Reno maaf ya, aku hanya bisa mengantarmu sampai sini saja, aku tak bisa melangkah lebih jauh,” Camilla berkata seperti itu sambil tersenyum.
“Yahh, padahal aku ingin mengajakmu untuk makan malam bersama..” Jawab Reno dengan wajah cemberut.
“Ya, lain kali saja ya Reno. Terima kasih atas niatnya,” Camilla setelah berkata seperti itu langsung pergi ke dalam hutan, perlahan bayangan Camilla hilang di mata Reno.
Esoknya, pada tanggal 23 November 2022. Reno kembali ke hutan, kali ini dia memasang beberapa kain pada pohon yang ia lewati di jalan. Setelah sampai di tempat yang kemarin, ia memanggil Camilla. Camilla langsung datang dan bertanya “Kenapa Reno? Ada yang ingin kau tanyakan lagi?”.
“Ya, aku ingin bertanya sekali lagi. Apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini?”. Jujur saja hal itu membuat Reno bertanya-tanya akhir-akhir ini.
“Aku sedang membantu alam! Membantu alam untuk menyembuhkan lukanya,” Jawab Camilla dengan senyum lebar.
“Memangnya apa yang kamu pikiran tentang alam? Apa yang membuatmu begitu terpikat dengan alam?” Reno kembali bertanya.
“Menurutku alam itu sangat indah, banyak misteri tentang itu. Alam mempunyai seribu satu keindahan yang terlihat namun juga banyak rahasia tentang alam yang manusia tak tahu. Alam banyak membantu manusia, tapi terkadang manusia itu tak tahu berterima kasih. Mereka mengambil pohon dengan membabi buta, dan meninggalkannya ketika pohon itu sudah habis. Mereka pergi begitu saja tanpa menanam pohon lagi. Padahal alam tak pernah meminta apapun, namun manusia begitu naif.” Jawab Camilla dengan panjang lebar.
Reno hanya terdiam, merenungi semua kata-kata Camilla. Sungguh, kata-kata itu begitu bermakna bagi Reno.
“Kamu lihat lahan itu Reno! Lahan itu kosong tanpa pohon, dan itu semua karena ulah manusia. Padahal lahan itu adalah bagian dari hutan, tapi sekarang melihatnya saja sudah seperti hal lain. Aku khawatir tentang alam jika terjadi sesuatu nantinya, jadi aku bantu mereka untuk memulihkan lukanya dan menjaganya karena itu adalah tugasku.” lanjut Camilla.
“Apakah aku boleh membantumu untuk menjaga ini?” Tanya Reno dengan tiba-tiba
“ Boleh saja, asalkan kamu tahu bagaimana cara merawatnya” Jawab Camilla
“Ya! Aku akan belajar caranya. Bolehkah juga kalau kita berteman?” Sekali lagi pertanyaan Reno membuat Camilla kaget, namun Camilla menjawab itu dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Mulai hari itu Reno dan Camilla bekerja sama dalam mereboisasi hutan. Sedikit demi sedikit hutan itu terasa lebih hidup. Semakin banyak tunas pohon yang mulai tumbuh besar, kerja keras mereka terbayarkan dengan rasa bangga karena hutan itu tak lagi gundul. Masalah hutan sudah terselesaikan, sekarang tugas Camilla sudah selesai. Untuk itu Reno ingin bertanya kepada Camilla, tentang mengapa dia bisa tinggal di hutan dan kenapa dia begitu peduli dengan hutan. Pertanyaan ini sudah lama ada di otaknya, ia selalu ingin bertanya namun selalu lupa ketika sudah bertemu dengan sahabatnya itu.
“Um, Camilla. Aku ingin bertanya, tapi tolong jangan marah ya?” Tanya Reno
“Haha, tak akan kok. Aku tak akan marah” Jawab Camilla dengan tersenyum.
“Kenapa engkau bisa ada di dalam hutan sendirian? Apa kau tak takut? Dan apa yang kamu maksud dengan tugas menjaga alam? Jika tugasmu itu selesai kamu akan kemana? Apakah kamu akan pergi? Tapi pergi ke mana?.”
“Huh? Tugasku sudah selesai ya? Baiklah, aku akan menjawab ini Reno. Kamu sangat menyukai semua hal tentang alam kan? Sepertinya aku belum memperkenalkan aku sendiri dengan rinci ya. Reno, apakah engkau tak melihatku dengan seksama? Lihatlah, aku tak punya bayangan. Aku bukan makhluk sepertimu,” Jawab Camilla. Reno terpaku diam, melihat Camilla dari atas hingga bawah. Benar saja, Camilla tak punya bayangan, tubuhnya sekarang hampir transparan.
“Aku bukan manusia,” Kata Camila sekali lagi dengan tangisan yang sudah tak bisa dibendung lagi.
"Tidak, tidak mungkin. Mana bisa di dunia ini ada makhluk lain selain manusia, hewan, dan alam aku tahu kau bercanda kan? Tolong katakan itu hanya sebuah lelucon. Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?Tugasmu sudah selesai? Apakah akan menghantuiku? Aku tak percaya" Ucap Reno dengan suara yang tak terlalu jelas karena Reno sudah menangis sesenggukan.
"Maaf karena aku tak memberitahumu lebih awal Ren. Aku hanya tidak ingin kamu takut, kau satu satunya sahabat paling dekat yang pernah aku miliki. Jika tugasku sudah selesai sekarang mungkin aku akan menghilang sekarang juga" Jawab Camilla. Kini wajah sedihnya berubah menjadi wajah sayu yang bahagia walau ada air mata yang terus mengalir.
Perlahan tubuh Camila mulai bersinar, tapi juga ada sedikit retakan di tubuhnya. Sedikit demi sedikit tubuhnya hancur, dia mulai berubah menjadi butiran kecil yang bersinar sekarang tubuh Camilla sudah benar-benar hilang.
"Jangan! Jangan pergi! Aku masih tak mengerti! jangan!" Teriak Reno kepada butiran-butiran yang berterbangan itu, namun tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan lelah dia tertidur.
"Sayang! sayang! ya Tuhan bagaimana ini bisa terjadi? sayang aku mohon bangunlah!" Suara yang familiar itu terus terdengar di telinganya, "Sayang Apa yang kamu lakukan di tengah hutan seperti itu?? sendirian pula," Oceh mamanya yang bahkan Reno sendiri belum sepenuhnya sadar.
“Ma, Sudahlah Reno belum bisa apa-apa. Jangan terburu-buru, ambillah nafas panjang lalu buang. Tanyanya nanti saja ya, biar Reno bisa bangkit dulu.” Suara kakaknya Reno. Setelah itu dokter datang ke ruangan dan mengecek keadaan Reno.
“Selamat ya bu, akhirnya Reno bisa sadar. Namun sepertinya Reno mengalami riset ingatan. Tapi jangan khawatir ingatan Reno akan segera pulih dalam jangka waktu yang dekat. Sekarang yang dibutuhkan Reno hanya istirahat yang cukup.” Kata dokter itu dengan harapan mamanya Reno bisa tenang.
“Baik dok, terima kasih.” Jawab kakaknya Reno.
“Bunda, biarin Reno istirahat ya. Besok baru kita tanyakan.” Kata kakaknya yang sembari menggandeng tangan mamanya untuk duduk di kursi dekat kasur Reno tidur.
“Ma, ini tanggal berapa?” Tanya Reno yang memang sedari tadi memperhatikan kalender.
Kakaknya Reno spontan melihat Reno, lalu dia langsung menyodorkan kalender dan menunjuk angka 2 Januari 2022. Reno kaget langsung melihat kakaknya dan menatap matanya tanpa sepatah kata pun. Kakaknya langsung mengerti apa maksud dari tatapan adiknya itu langsung menjawab.
“Kau hilang pada 23 November 2021 dan ditemukan dalam keadaan kritis pada tanggal 4 Desember 2021. Dan sejak itu kau koma sampai sekarang.” Jelas kakaknya. Reno langsung terbelalak mendengar hal itu. Berarti selama satu bulan lebih dia tak sadar. Tapi dia juga kebingungan, mengapa dia bisa berakhir seperti itu. Sungguh dia tak paham.
“Kau mungkin sekarang akan mengalami kelumpuhan pada kakimu. Ya itu sudah biasa kok, kan ototmu juga tak mungkin terbiasa untuk terus berdiam diri jadi dia butuh waktu.”
Dua minggu kemudian mereka diperbolehkan untuk pulang, namun kaki Reno masih belum bisa berjalan. Saat sampai di rumah tepatnya di halaman belakang rumah. Entah mengapa Reno merasa perih di dadanya, dia juga merasa seperti ingin menangis, sesak memenuhi dadanya. Rumah itu baginya seperti pernah memberikan luka yang mendalam tapi dari rumah itu juga dia merasakan rindu yang luar biasa walau dia tak tahu siapa yang dia rindukan.
Malam itu mamanya ke kamar Reno, kakaknya pun juga ikut. Mereka berbicara pada Reno
“Ren, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kau bisa sampai di tengah hutan sendirian? Ceritakan pada mama nak!” Ucap mamanya Reno
“Aku tak tahu ma Reno sendiri juga bingung.” Jawab Reno. Kakaknya mengambil sebuah buku catatan di lemari buku Reno dan membawa salah satunya serta membuka halaman buku itu
“Siapa ini Ren?” tanya kakaknya. Reno hanya terdiam terpaku melihat itu. Sedikit demi sedikit ingatan Reno yang dulu, sudah kembali lagi. Air mata sudah membanjiri pipinya.
Dia ingat gadis itu adalah Camilla Haston sahabat yang dulu ia bantu untuk menjaga hutan. Malam itu Reno tertidur setelah mendapati ingatan yang perlahan mulai kembali.
“Mama apakah mama tahu gadis itu?” Tanya kakaknya kepada ibunya.
“Besok ikut mama ke hutan kalau bisa ajak Reno juga” Jawab mamanya yang seperti mengetahui sesuatu.
Besoknya mereka bertiga pergi ke hutan bersama. Reno yang terkejut bertanya-tanya, kenapa mamanya bisa tahu jalan ini. Sesampainya di tengah hutan mamanya menunjuk ke suatu rumah hutan belantara yang terbengkalai. Mamanya menggandeng tangan Reno dan menunjukkan suatu tempat di belakang rumah itu. Betapa terkejutnya ia yang membaca suatu nama di atas batu nisan.
“Rest in peace. A daughter with the pure Heart. Camilla Haston. 1874-1888”
“Hah mama apa-apaan ini?” tanya Reno dengan suara yang mulai pecah.
“Sahabatmu itu namanya Camila kan?” tanya balik mamanya sambal mengambil sebuah buku di dekat batu nisan itu.
“History of Camilla Haston” Reno membaca buku itu satu persatu, dari buku itu Reno bisa simpulkan bahwa Camila merupakan seorang gadis dari keturunan salah satu pahlawan perang di Prancis. Camilla sangat
cantik, kecantikannya merupakan turunan dari garis Prancis, namun walau dengan wajah yang sangat menawan, Camilla malah dibenci oleh warga pribumi. Camilla tidak punya teman, ia hanya bisa berteman dengan alam. Ia keturunan dari keluarga kaisar, oleh karena itu dia bisa mendapatkan pendidikan dengan bebas.
Camilla belajar tentang alam dan mendalami semua tentang itu. Camilla merawat alam di sekitar rumahnya. Namun naas di usianya yang ke-14 tahun, dia meninggal akibat serangan balasan dari pribumi yang memaksa masuk ke rumahnya. Dia meninggal di dalam hutan saat melakukan pelarian.
Kakaknya Reno berkata “Apakah dia tidak bisa tenang? dia punya masalah yang belum selesai. Oleh karena itu, mungkin dia mencari bantuan. Dia pasti berkali-kali gagal dalam ratusan tahun ini, ia hanya bisa meminta bantuanmu Reno.”
Reno sudah tak ada lagi di sana dia berlari, ke dalam hutan dalam keadaan menangis dan memanggil-manggil nama sahabatnya itu. Tapi tak ada balasan, tangisannya semakin menjadi-jadi suaranya semakin serak karena dia terus berteriak memanggil nama Camila. Reno kembali mencari cari Camila di dalam hutan. Saat tenaga Reno sudah mulai habis dia mulai terjatuh di tanah tangisan itu membuat seluruh tubuhnya bergetar.
“Camilla tolong muncullah!” Panggil Reno sekali lagi, tiba-tiba salah satu tunas pohon di sana bersinar-sinar dan mengeluarkan buih-buih cahaya, yang sedikit demi sedikit membentuk tubuh seorang gadis. Cahaya itu perlahan-lahan mendekat ke Reno dan menyetarakan tingginya dengan Reno yang sedang duduk di atas tanah ia berkata
“Tolong jaga alam ini ya! Tugas dan permintaanku sudah selesai di sini aku percaya Reno, kamu sahabatku yang paling baik.” Suara gadis itu membuat Reno semakin tenggelam dalam kesedihan, hatinya seakan diiris.
“Iya, iya Camilla aku akan menjaganya dengan baik. Ini adalah tugasku sekarang aku berjanji akan menjaganya, sebaiknya engkau yang menjaganya.”
Sudah lebih dari satu tahun kejadian itu. Reno sudah berdamai dan ikhlas tentang sahabatnya. Alam memang begitu kan banyak hal yang indah namun juga ada yang buruk. Ada seribu satu rahasia yang mengerikan di dalamnya. Alam adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan manusia, namun seringkali pula manusia melupakan hak dan kewajibannya. Manusia itu terkadang lupa dan naif atas perbuatannya. Apapun yang mereka inginkan selalu harus terpenuhi walau harus mengorbankan alam sekali pun, padahal alam adalah kehidupan. Banyak manusia yang melupakan kewajibannya, tapi ada juga manusia yang bahkan rela mati dalam menjaga alam. Oleh karena itu, Reno ingin terus menjaganya dengan baik agar manusia juga bisa hidup dengan damai di alam.
------- #KamisMenulis
Comments