Lebih dari Kota Santri: Menyingkap Cerita Kaliwungu dalam Lintasan Zaman
KENDAL – Kaliwungu bukan sekadar sebuah kecamatan di Kabupaten Kendal. Di balik batas administratif yang terdiri atas sembilan desa, kawasan yang dikenal sebagai Kota Santri ini menyimpan perjalanan panjang tentang sejarah, identitas, budaya, ritual keagamaan, hingga dinamika sosial dan politik yang terus berkembang dari zaman ke zaman.
Beragam cerita tentang denyut kehidupan Kaliwungu tersebut terangkum dalam buku Kaliwungu dalam Lintasan Ruang dan Waktu, yang menjadi bahan utama dalam Bedah Buku Festival Literasi 2026 di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kendal, Minggu (13/9/2026).
Buku ini menghadirkan catatan kolektif dari 16 penulis dengan latar belakang yang beragam, mulai dari akademisi, budayawan, tokoh agama, politisi, hingga santri. Mereka adalah orang-orang yang lahir di Kaliwungu maupun pernah merasakan langsung kehidupan dan dinamika masyarakatnya.
Melalui berbagai tulisan tersebut, Kaliwungu tidak hanya dilihat sebagai sebuah ruang geografis, tetapi sebagai ruang yang di dalamnya berlangsung beragam praktik kehidupan masyarakat. Tradisi, ritual keagamaan, kebudayaan, kehidupan sosial, hingga aktivitas politik menjadi bagian dari cerita yang membentuk identitas Kaliwungu dari masa ke masa.
- Abdul Muis, S.Pd.I., Pengasuh Madrasah Budaya, hadir sebagai narasumber dalam bedah buku tersebut. Sementara diskusi dipandu oleh Bahrul Ulum, M.Pd., Presiden Pelataran Sastra Kaliwungu.
Buku ini juga menawarkan cara pandang yang berbeda dalam membaca sejarah lokal. Kehadirannya tidak dimaksudkan sebagai bentuk glorifikasi terhadap Kaliwungu, melainkan sebagai ikhtiar untuk memperkuat literasi dan menyediakan referensi bagi lintas generasi. Catatan-catatan yang dihimpun menjadi upaya untuk merekam wajah Kaliwungu hari ini sekaligus meninggalkan jejak pengetahuan bagi generasi yang akan datang.
Melalui kegiatan bedah buku ini, Perpusda Kendal turut membuka ruang bagi masyarakat untuk membaca kembali daerahnya sendiri. Sebab, sejarah tidak selalu hadir dalam buku-buku besar tentang bangsa dan negara. Ia juga tumbuh dari cerita masyarakat, tradisi, pengalaman, dan ingatan tentang sebuah tempat.
Comments