Posted by :

  • 04 Maret 2024

Kaleng Roti Ayahku

Oleh: A.K. Jauhari

 

Malam itu aku baru saja pulang mengambil laptop kantor dari tukang servis. Anak dan istri sudah menyambutku di ruang keluarga dengan antusiasnya. Tas punggung yang kubawa diminta anak ragil. Langsung saja tas punggung dibuka dan diambil isinya. Namun tidak diketemukan apa yang menjadi harapannya yaitu oleh-oleh. Kekecewaannya nampak sekali dari raut mukannya. Akupun  minta maaf dan  kujelaskan bahwa bapak pergi bersama rekannya.

 

Untuk menghidupkan suasana malam agar anak ragil tidak kecewa kucoba membangun dengan obrolan dan candaan. Canda ria dan obrolan berlanjut menjadi seru. Namun obrolan itu terhenti tatkala ada suara bel tamu dari teras rumah. Pintu kubuka dan tamu kupersilakan masuk. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya. Aku bagai disambar petir. Badan terasa tidak bertulang dan beribu angan tak menentu menghantui pikiranku. Setelah menerima berita buruk dari tamu. Ayahku tercebur ke sungai saat akan ke rumah bulik yang akan punya hajat.

 

Bersama anak ragil aku segera ke rumah ayahku yang jaraknya seratus meter dari rumah. Sambil berlari kecil kupanjatkan do’a semoga ayah selamat tidak terjadi hal yang fatal. Aku segera masuk rumah dan kucari ayahku. Segera kupeluk erat, kucium dan kuraba tubuhnya barangkali ada yang luka. Ternyata ayahku selamat hanya lecet sedikit pada bagian jari kelingking.

 

Malamnya aku tidak dapat tidur membayangkan kejadian yang menimpa ayahku. Pikiranku berkelana liar melayang  mencari jawaban. Hati kecilku berbisik ternyata banyak mengarah ke hal yang telah dilakukan ayah.   Silaturrahmi ke saudara adalah hal yang sering beliau lakukan. Tak memandang itu lebih tua atau dibawah usianya. Kegiatan olah raga adalah hobinya sejak muda. Berbagai cabang olah raga beliau kuasai. Ketika usia muda pernah terpilih menjadi pemain salah satu club untuk bermain dalam kompetisi di Lapangan Istora Jakarta. Tak heran jika diusianya yang ke-81 fisik badanya masih segar.  Namun saat ini netra beliau pandangannya berkurang karena rabun dekat.

 

Memori otakku masih bekerja membuka ingatan ketika aku kecil. Ketika itu aku melihat kaleng roti yang bertuliskan. “ Mana jatahku”. Kaleng warna biru itu digunakan ayahku untuk menyimpan uang zakat mal yang diambil 2,5% dari gaji. Sebelum hari raya Idul Fitri kaleng roti dibongkar dihitung isinya kemudian ditasarufkan kepada yang berhak menerimanya. Malam semakin dingin netraku perlahan tertutup oleh kelopak mata bersama suara kokok ayam dikejauhan. 

              

-----------------------------------------------------------------------------------

Cerpen ini sudah terbit dalam buku Antologi Cerpen dengan tema “ Suatu Hari Bersama Bapak “. Diterbitkan oleh CV Pustaka Media Guru. Buku ini hasil Noebar Pemred Eko Prasetyo yang diikuti 133 Penulis Pendidik se-Indonesia.

Comments

Wahyu - 20 Maret 2024 08:38

Mantab

Leave A Reply