Posted by : Admin Dinarpus

  • 20 Juni 2025

MENILAI AKSI KOMUNITAS LINGKUNGAN

Oleh : Muhamad Kundarto

 

Satu sisi, kita bisa membawa misi sebuah tata aturan penilaian yang baku yang sistematis dan terstruktur dengan baik. Sehingga berusaha untuk menilai secara teliti dan maksimal terhadap aksi-aksi yang dilakukan. Namun di sisi yang lain, yang tidak boleh dilupakan dan sama pentingnya, adalah menghormati kondisi sosial ekonomi budaya komunitas setempat. Sehingga jangan sampai penilaian itu malah berdampak kontrakproduktif dan demotivasi aksi. Dua sisi inilah yang perlu dimengerti dan wajib dipertimbangkan oleh kita yang mengemban amanah sebagai penilai.

 

Saat menilai, perlu diperhatikan bahwa kita bukan petugas proyek yang harus memastikan program-program yang dijalankan sesuai dengan alokasi anggaran yang disediakan. Sadarlah, bahwa sebagian besar aksi komunitas lingkungan dilaksanakan secara SWADAYA. Maka kita tidak berhak menanyakan seperti pihak yang meminta pertanggungjawaban. Kita hanya perlu mencatat dan sesekali memuji atas berbagai aksi yang sudah dilakukan. Sementara aksi yang kurang ideal, wajib diberikan masukan yang solutif sesuai situasi dan kondisi setempat. Boleh jadi mereka kurang anggaran. Boleh jadi belum ada bantuan dari para pembina dan pendukung. Hal-hal yang bersifat negatif atau nilai kurang, sebaiknya tidak diucapkan, kecuali bisa dikemas dengan gaya komunikasi yang menentramkan dan tidak menyakitkan.

 

Kita perlu memahami, bahwa saat penilaian ada sebagian komunitas dengan pembina dan pendukungnya yang masih BERMENTAL LOMBA. Sehingga aksi yang dilakukan dan data-data yang disajikan sudah dikemas sedemikian rupa agar terlihat lebih baik dan menimbulkan kesan ideal. Buat penilai, sadarlah bahwa itu hal manusiawi dan besarnya pengorbanan yang dilakukan sering jauh lebih besar dari apa yang nantinya didapat. Boleh jadi akhir penilaian hanya diberikan selembar sertifikat. Namun biaya yang dikeluarkan oleh lokasi sangat besar. Sebagai renungan, terkadang lomba-lomba itu juga merupakan strategi mendorong keberlanjutan aksi. Terkadang pula, pujian dan memberi kesempatan perwakilan komunitas untuk naik ke panggung menerima apresiasi, akan berdampak besar pada motivasi komunitas dalam jangka panjang. Jadi, hadiah tidak selalu diberikan pada mereka yang sudah melakukan aksi terbaik, tapi bisa juga diberikan pada mereka agar lebih termotivasi melakukan aksi-aksi berikutnya.

 

Buat para penilai, jangan pernah mempermalukan kekurangan komunitas lingkungan di depan forum formal atau publik yang disaksikan banyak orang. Ada teknik tersendiri agar komunitas tersebut menyadari kekurangannya, biasanya dikemas dalam suasana santai, hiburan canda tawa, tapi tetap serius mendorong mereka memahami hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Jadi biarkan mereka mentertawakan aksi-aksi sendiri yang masih kurang ideal dan memotivasi agar mereka mau memperbaikinya. Ingat, tahapan tersulit dalam aksi lingkungan adalah membangkitkan motivasi sosial untuk melakukan aksi bersama.

 

Buat para penilai, jangan terlalu kaku mengukur penilaian dengan standar ilmu statistik, misalnya aksi yang dilakukan baru dilaksanakan oleh 10-20% dari total jumlah warga. Ingatlah bahwa gerakan sosial umumnya dilakukan secara sukarela dan para pelaku siap rugi secara ekonomi karena banyaknya pengorbanan yang dilakukan demi sebuah idealisme yang bernama melestarikan lingkungan. Kita pun yang datang juga sekedar mendorong dan menasehati tanpa ada kucuran dana. Maka hargailah aksi-aksi yang dilakukan walau kurang maksimal dan kurang ideal. Secara umum aksi lingkungan memang minoritas, tidak populer dan baru jadi perhatian bersama ketika sudah jadi bencana dan viral di media massa. Jadi hargailah mereka yang tetap melakukan aksi di kesunyian dan mungkin luput dari penghargaan yang sewajarnya.

 

Kadang hasil akhir penilaian juga perlu mempertimbangkan proporsionalitas atau keseimbangan antar lokasi dan antar tipologi wilayah. Misalnya penilaian dilakukan para para siswa di lima kelas yang berbeda, yaitu A, B, C, D dan E. Misalnya nilai yang bagus tiga besar ada di kelas A. Maka ini membutuhkan kebijaksanaan agar tiga besar ini bisa terdistribusi dengan asas pemerataan. Maka, penilaian komunitas lingkungan tidak melulu urusan angka atau skor, tapi juga mempertimbangkan asas keadilan sosial dan pemerataan.

 

Semoga Manfaat

 

-----------

Comments

Leave A Reply