Bangkit Bersama Literasi Digital
"Bangkit Bersama Literasi Digital"
oleh Maura Dewi Setiawan
Siswi SMPN 1 Singorojo
Juara 1 Lomba Penulisan Artikel Jenjang SMP/Sederajat Tahun 2023
-------------------------------------------------------------------------
Pengantar
Saat ini Indonesia memiliki literasi yang rendah. Diriset dari Central Conectikul State Universty, dari 61 negara Indonesia berada pada peringkat ke-60. Menurut UNESCO hanya 0,001%, yang berarti dari 1000 hanya 1 orang yang gemar membaca.
Namun hal ini malah berbanding terbalik dengan pengguna internet di indonesia. Menurut laporan dari We Are Social, diketahui bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 60,4% orang. Dari data Kominfo 63 juta orang menggunakan, yang berarti setara dengan 95% dari populasi di Indonesia. Tentu angka ini bukanlah angka yang rendah. Bagaimana bisa dengan potensi sebesar itu namun tidak diimbangi dengan kemampuan literasi yang memadai. Jika hal ini terus berlanjut, besar kemungkinan akan berdampak buruk bagi kehidupan.
Dampak Minimnya Literasi Digital
Besarnya pengguna internet namun tidak diimbangi dengan literasi digital membuat banyak dampak yang negatif. Banyak orang tua diluar sana yang memberikan gadget kepada anak mereka yang masih dibawah umur. Padahal orang tua harus tau bahwa anak dibawah umur belum paham membedakan konten yang baik dan konten yang buruk. Sedangkan sekarang banyak konten yang tidak pantas diakses anak dibawah umur mudah untuk dijumpai.
1. Merajalelanya Cyber Bullying
Dampak minimnya literasi digital lainnya adalah ujaran kebencian atau yang lebih kita kenal dengan hate speech. Kurangnya pemahaman mengenai literasi digital membuat banyak kalangan melontarkan ujaran kebenciannya. Pasti kita tidak jarang melihat kasus bullying pada sosial media. Banyak kasus tentang pelaporan yang dilakukan artis maupun konten kreator yang tentu melaporkan netizen karena sudah menganggap apa yang dilakukan sudah keterlaluan yang tidak bisa ditoleransi. Para netizen sudah tidak menganggap para artis sebagai manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan. Mereka dituntut untuk selalu benar dengan alasan mereka adalah publik figur yang harus memberikan contoh baik kepada masyarakat. Baru-baru ini terjadi kasus pada wanita berusia 44 tahun yang bekerja sebagai guru les dan influencer TikTok. Wanita tersebut diduga bunuh diri karena tak tahan dengan bully-an disalah satu kontennya.
2. Tumbuh suburnya Hoaks
Tidak kalah dengan Hate Speech, dampak minimnya literasi digital adalah hoaks atau berita bohong, kasus ini merupakan makanan sehari-hari. Tak hanya hal-hal sepele, hoaks juga sudah sampai merambah isu politik dan negara. Bahkan Microsoft menyatakan Indonesia sebagai negara dengan kesopanan digital terburuk di Asia tenggara, karena maraknya berita bohong, penipuan dan perundungan. Contoh berita bohong yang paling sering terjadi adalah informasi tentang pengobatan herbal. Tentu kalian tidak lupa dengan situasi wabah Covid kemarin. Banyak beredar informasi-informasi di grup WhatsApp tentang ramuan herbal penyembuh Covid. Padahal Covid sendiri sudah memakan banyak korban. Bahkan dokter maupun ilmuwan belum bisa menemukan obat dari virus tersebut. Parahnya tak sedikit orang yang membagikan ulang informasi tersebut. Ditambah lagi dengan kalangan pintar yang ikut menyebarkan berita tersebut. Hal ini tentu menyebabkan keresahan masyarakat. Gara-gara maraknya berita bohong banyak orang yang dirugikan. Melihat banyaknya berita bohong yang tersebar memang sudah seharusnya kita pandai memilih berita. Kita harus memilah dan memilih informasi. Kita pun harus belajar untuk tidak terburu-buru ikut menyebarkan berita tersebut.
Bersama Meningkatkan Literasi Digital
Rendahnya kemampuan literasi digital ternyata berdampak cukup besar. Namun hal ini bisa kita cegah jika kita mau merubah kebiasaan. Bisa dimulai dari keluarga, sekolah, dan lingkup masyarakat. Orang tua seharusnya mampu mengajarkan literasi sejak dini dengan mengenalkan buku maupun aplikasi yang meningkatkan literasi digital, seperti Teka-Teki, Puzzlle, Ular Tangga, Dongeng Rakyat, dan masih banyak lagi. Sedangkan guru bisa membuat kegiatan sekolah dengan literasi yang menarik juga menantang bagi anak murid, seperti lomba dan lain sebagainya. Peran pemerintah juga tak kalah penting dengan membuat perpustakaan yang menarik.
Comments