Posted by :

  • 08 Januari 2024

MENGUATKAN DAYA JUANG (Arah Pendidikan Generasi Muda)

MENGUATKAN DAYA JUANG (Arah Pendidikan Generasi Muda)

Oleh : Muhamad Kundarto

 

Pendidikan sekolah itu bukan sekedar meraih ranking 3 besar. Pendidikan kuliah juga bukan sekedar mendapatkan IPK > 3,5. Ranking dan IPK memang penting, tapi itu bukan tujuan akhir satu-satunya. Target ranking 10 besar dan IPK > 3 sudah cukup baik. Berikutnya adalah membina mental pelajar/mahasiswa agar mempunya daya juang tinggi. Bagaimana caranya?

 

Pelajaran terkait daya juang dimulai dari kebiasaan di rumah, bagaimana orang tuanya melatih anak-anaknya untuk bersosialisasi pada teman-teman, tetangga dan lingkungan lainnya. Bagaimana mereka masuk (baca: menyapa dengan santun), membangun komunikasi dua arah dengan banyak pihak, belajar bekerjasama dalam kegiatan positif, dan tertantang untuk mencari pengalaman baru dari kondisi sosial yang berbeda.

 

Lingkup kecil adalah pengenalan sekitar rumah tinggal. Bagaimana mereka lebih peduli pada urusan rumah, seperti mengenali aneka tanaman dan perabot beserta fungsinya, mengelola sampah, menjaga kebersihan, memperbaiki perabotan yang rusak, dan jika ada permasalahan solusinya kemana dan harus bagaimana.

 

Berikutnya adalah lingkungan sekitar rumah. Bagaimana mereka belajar mengenal identitas para tetangga dan belajar berinteraksi, seperti bermain dengan teman sebaya, mengirimkan atau mendatangi rumah tetangga, dan ikut kegiatan gotong royong bersama warga. Di sesi ini akan mulai terlihat bagaimana kualitas mereka ketika bertemu suasana di luar rumah sendiri. Misal, ada istilah "jago kandang" atau "anak mama", dimana dalam rumah terlihat sangat dominan, tapi ketika di masyarakat terlihat kuper (kurang pergaulan) dan grogi harus berinteraksi seperti apa.

 

Tahap selanjutnya adalah mengenal lingkungan sekolah/kampus bertemu dengan sesama pelajar/mahasiswa dan guru/dosen. Kegiatan belajar atau akademik akan membantu mereka berjuang memahami ilmu, berdiskusi, mengerjakan tugas dan berkomunikasi untuk berbagai urusan. Ada istilah pelajar/mahasiswa "kutu buku" untuk sebutan mereka yang terlalu fokus pada belajar sendiri. Mereka juga perlu bergaul dengan banyak orang. Perlu diketahui, jika pendidikan dasar SD sampai SMA cenderung mendorong kegiatan bersama-sama, untuk perkuliahan perguruan tinggi ada tahapan mendidik kemandirian, yaitu saat mereka menentukan dimana harus magang kerja, meneliti skripsi apa dan dimana, dan melakukan proses bimbingan sampai ujian skripsi seorang diri. Banyak lika-liku daya juang yang dilatih di sini, seperti penentuan lokasi, komunikasi dengan masyarakat, konsultasi dengan dosen, dll.

 

Setelah lulus sarjana, baru memasuki "welcome to the jungle" atau berinteraksi sosial dengan masyarakat aneka warna dimanapun berada. Ibarat pasukan perang, mereka ini harus masuk ke medan perang yang sesungguhnya. Akan terlihat bagaimana mereka bisa masuk dengan mudah atau kedodoran di banyak langkah. Misalnya bagaimana mereka melamar kerja atau menciptakan pekerjaan sendiri. Bagaimana mencari lowongan, mengikuti proses seleksi, sampai masuk ke dunia kerja.

 

Sebuah catatan kritis dari dunia kerja, adalah kebutuhan tenaga kerja yang sudah siap skill dan mental, yaitu bisa bekerjasama dalam tim, bisa bekerja di bawah tekanan, punya kesantunan tinggi dan kemampuan komunikasi sosial yang baik. Kriteria ini adalah 'terjemahan' dari mental juang tadi, yang kadang harus mereka jalani dengan jatuh bangun, sering gagal, lelah, sedih, bingung dan aneka tekanan fisik-mental.

 

Pendidikan itu bukan sekedar bagaimana agar tidak pernah gagal, tapi yang terpenting adalah kesiapan untuk selalu bangkit secepat mungkin ketika mengalami kegagalan. Itulah ukuran nyata bagi mereka yang punya mental juang tinggi.

Comments

Leave A Reply