"MELANGKAH BERSAMA"
Cerpen oleh : VYLLZA DRUPADI HERNANDITH
Siswi SMP N 1 Weleri
Juara 3 Lomba Cerpen Dinarpus Kendal Tahun 2022
Di depan pintu perpustakaan, langkah Denok terhenti. Tak kunjung melangkahkan kakinya masuk ke dalam perpustakaan. Ia menatap pintu perpustakaan dan permen dalam genggaman secara bergantian, hingga pada akhirnya ia mengembuskan nafas berat dan melempar permen dari tangannya yang sudah tersisa setengah.
“Maaf, yo. Wayah e ngaso mung sedelok, aku isih arep moco buku!” ucap Denok seakan berbicara pada permennya.
Belum genap dua langkah masuk ke dalam perpustakaan, suara lantang seorang gadis terdengar dari dalam ruangan. Suara yang ia kenal baik, yang sudah bisa Denok tebak meski belum melihatnya.
Dan benar saja, saat Denok mengintip ia sempat mendapati Prima tengah merundung seorang anak laki-laki berkacamata yang sedang terduduk di lantai. Kacamata yang sedang anak laki-laki itu
gunakan ditarik paksa oleh Prima dan ia lempar ke sembarang arah.
“Koe wong miskin! Wanine nabrak aku karo nibakke bukuku!” ucap Prima sembari menunjuk anak laki-laki dihadapannya.
Anak laki-laki itu terlihat lesu, ia hanya menunduk dan sudut matanya mulai berkaca-kaca. Prima tampak hampir menginjak kacamata itu, namun Denok dengan cepat masuk dan menegur Prima.
“Ono opo iki? Rame banget. Oleh melu ora?” Prima tampak tak senang dengan kedatangan Denok, terlihat ia memicingkan matanya saat Denok tiba-tiba masuk ke dalam perpustaakan.
“Wis, koe ora usah melu-melu, Nok. Masalahku mung karo cah iki!” Ucap Prima ketus sembari menunjuk anak laki-laki itu lagi.
Denok lantas mendekat ke arah Prima sembari berucap, “Krungu-krungu, Bu Raina arep mrene. Mending koe lunga daripada ketauan ngerjani cah anyar.”
Prima berdecak mendengarnya, cepat-cepat ia ambil buku miliknya yang telah ia pinjam lalu berjalan cepat keluar dari ruangan. Prima benar-benar tak ingin berhadapan dengan Bu Raina kembali karena ia tahu permasalahannya akan semakin rumit. Denok sempat melirik anak laki-laki yang masih terduduk itu, raut wajahnya murung dan air matanya hampir terjatuh. Bagi Denok, wajah anak laki-laki itu tampak tak asing, ia tahu bahwa anak laki-laki itu adalah anak baru yang pindah dari Sumatera.
Tak jarang Denok melihat teman sekelasnya dan teman-teman dari kelas lain merundung anak laki-laki itu dengan sebutan "miskin" ataupun "Si Kutu Buku". Anak laki-laki itu tampak meraba lantai seperti mencari sesuatu, mencari kacamata miliknya yang hilang dilempar Prima.
Mata Denok menangkap benda yang ia cari, cepat-cepat ia pungut benda yang rupanya jatuh ke bawah kolong rak buku. Denok melihat lensa kacamata anak laki-laki itu sudah retak pada bagian ujungnya, sedikit tak tega melihat raut wajah laki-laki itu setelah mengetahui kacamatanya rusak meski hanya pada bagian ujungnya.
“Kau Sintong, kan? Anak baru dari Sumatera itu?” ucap Denok hati-hati. Pemuda bernama Sintong itu lantas menoleh dengan raut wajah yang sudah berubah terkejut, sedangkan Denok terlihat kebingungan melihat raut wajah Sintong yang berubah begitu cepat.
“Kenapa raut wajahmu kaget begitu?” Denok bertanya kembali.
“Tidak, terkejut saja ada yang memanggilku Sintong. Biasanya orang-orang memanggilku dengan sebutan miskin.” Balas Sintong dengan nada yang lesu.
Denok seringkali melihat Sintong dirundung oleh teman-temannya dengan cara yang kasar, dan Denok memilih untuk diam meskipun ia bisa menolong Sintong saat itu.
Namun mendengar Sintong berbicara seperti ini, perasaan bersalah Denok semakin menyeruak.
“Aku tahu namamu Sintong lewat puisi yang kau buat, terpajang di mading sekolah. Kau suka membuat puisi, ya?” ucap Denok mengalihkan topik.
Sintong tampak mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Denok.
Kemudian Denok bertanya kembali, “Kenapa kau suka menulis puisi?”
“Karena menurutku mengungkapkan perasaan lewat Bahasa itu menyenangkan, terlebih lagi kalau sudah dirangkai menjadi puisi.” balas Sintong.
Menurut Denok, meski Sintong seringkali dirundung karena status sosial dan ekonominya, Sintong memiliki bakat terpendam yang tak banyak orang tahu.
Seketika Denok teringat dengan tawaran lomba membuat puisi yang Bu Raina tawarkan padanya, ini bisa menjadi jalan untuk Sintong menunjukkan karya-karyanya.
“Kau mau ikut lomba membuat puisi tidak? Tulisanmu bagus sekali, sayang kalau hanya disimpan. Lumayan, pemenangnya dapat hadiah uang yang bisa kau gunakan untuk membeli kacamata baru.”
Denok menawarkan pada Sintong. Sintong terdiam sejenak mendengar tawaran Denok, beberapa detik berlalu hingga akhirnya Sintong mengangguk dengan ragu-ragu. Bisa dikatakan di sekolah lamanya pun karya Sintong tak pernah dilirik, belum lagi Sintong hanya menghabiskan waktunya sendirian, sulit untuknya menjadi murid yang menonjol. Setelah kepindahannya kesini, terjadi sedikit perubahan karena kertas coretan puisinya tak sengaja terjatuh dan dilihat oleh salah satu guru, hingga puisi itu dipajang di mading sekolah. Kesempatan inilah yang menjadi batu loncatan pertama untuknya.
Sembari menatap kacamatanya, Sintong bertanya kepada Denok, “Kau tidak malu duduk denganku?”
Denok tertawa kecil mendengarnya. “Malu? Untuk apa?”
“Aku si miskin, musuh semua orang, tidak ada yang ingin dekat denganku. Lalu kenapa kau malah membantuku? Tidak takut dimusuhi semua orang karena berteman denganku? Bukankah itu merugikan kamu juga?” balas Sintong bertubi-tubi.
Denok terdiam sesaat, mencari jawaban dari semua pertanyaan Sintong.
“Kata Ibuku, ojo mbedakake marang sak sapadha-pada. Artinya hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia. Tidak ada alasan untuk tidak berteman dengan siapa saja, kan?” jawab Denok sembari tersenyum. Berteman dengan Sintong, si kutu buku, ternyata tak seburuk apa yang ia pikirkan. Sejak awal pikiran buruk orang-orang tentang Sintong memang salah karena mereka belum mengenal Sintong lebih dalam.
“Aku pergi ke kelas dulu, ya. Jangan lupa besok temui Bu Rania di kantor dan bawa semua tulisantulisanmu!” Denok menepuk pundak Sintong lalu berjalan pergi meninggalkan Sintong di perpustakaan.
Sejak saat itu, Denok dan Sintong kerap menghabiskan waktu istirahat bersama di perpustakaan, hanya untuk sekedar membahas tentang lomba puisi Sintong. Denok seringkali membantu Sintong
dalam penulisan puisinya. Seiring berjalannya waktu, Sintong berubah menjadi anak yang ceria, teman-teman Denok juga mulai ikut berteman dengan Sintong. Puisinya mendapat banyak pujian setelah itu, ditambah dengan kemenangan yang ia raih di lomba membuat puisi yang Sintong ikuti.
Sintong tak henti-hentinya berterima kasih pada Denok yang membantunya hari itu. Sewaktu jam istirahat berbunyi, Sintong menghampiri Denok sembari membawa sebuah kotak berwarna merah muda dengan pita berwarna putih yang ditempel disudut atasnya, ia duduk disamping Denok yang sedang menyendiri di salah satu bangku taman sekolah. Denok melihat perbedaan dari diri Sintong hari ini, kacamatanya baru. Dengan bentuk yang sama meski dengan warna yang berbeda, bentuknya bulat namun dilengkapi dengan corak emas pada bagian gagangnya.
“Wah, kacamata baru, ya? Keren sekali kau, Sintong!” Denok berucap sembari tersenyum kegirangan.
Sintong hanya tertawa mendengarnya, tangannya menyodorkan sebuah kotak hadiah kepada Denok.
“Apa ini?” Denok terkejut.
“Aku belum ulang tahun sudah kau berikan hadiah saja.” ucap Denok bergurau. Tangan Denok tampak tergerak ingin membuka kotak merah muda berpita itu, namun Sintong menahan tangan
Denok sembari menggeleng, menandakan agar jangan dibuka.
“Kau buka nanti saja, Nok. Saat aku sudah pergi, kalau bisa saat kau sudah pulang ke rumah.” ucap Sintong pada Denok. Dahi Denok mengernyit, Sintong tidak seperti biasanya memberikan hadiah seperti ini untuknya, belum lagi Sintong berkata untuk jangan membukanya sekarang. Sintong duduk di samping Denok dengan kepala mengadah, menikmati semilir angin yang begitu sejuk menerpa wajah. “Aku berterimakasih sekali kau sudah banyak membantuku.” Sintong berucap dengan suara rendah, terdengar begitu serius. Suasana diantara mereka begitu berbeda hari ini, banyak hal-hal serius yang Sintong ucapkan dan Sintong tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Denok. Sintong meraih juara pada lomba puisi bergengsi tingkat provinsi, Sintong berterimakasih karena Denok sudah membantunya. Namun bagi Denok, kemenangan itu tak akan bisa Sintong raih jika Sintong tidak berusaha dengan gigih. Juara yang Sintong raih benarbenar hasil kerja keras Sintong selama berhari-hari.
“Kau bisa berhenti mengucap terimakasih? Ini sudah ucapan terima kasihmu yang ke-seribu kali hari ini. Itu juga berkat usahamu!” ucap Denok dengan meninggikan suaranya sembari berkacak
pinggang. Sintong hanya terkekeh, sudah mulai terbiasa dengan sifat Denok yang kesabarannya setipis helaian bulu kucing.
“Oh, hadiah itu aku belikan menggunakan uangku sendiri, jadi tidak perlu khawatir, Nok. Hadiahnya tidak terlalu berharga tapi semoga kau suka.” ucap Sintong.
Denok kembali melirik kotak merah muda berpita yang ia genggam, terasa cukup berat hingga rasa penasarannya semakin bertambah.
Denok tak sabar untuk membukanya. Denok mengangguk sembari tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, bagaimanapun hadiah ini pasti akan berharga karena kau yang memberikan, Sintong. Aku bangga sekali melihat perubahanmu belakangan ini sejak pertama kali kita bertemu di perpustakaan. Omong-omong, bagaimana
kacamatanya?” Sintong tersenyum mendengar Denok bertanya tentang kacamata barunya.
“Kacamata ini sangat aku dambakan sekali sejak lama, ingin ku beli sewaktu aku melihat di toko kacamata tapi uangku tidak cukup. Tapi sekarang terbeli juga, keren tidak, Nok?” ucap Sintong girang sembari menunjukkan kacamatanya. Denok tertawa kencang melihat perilaku Sintong.
Sintong dan Denok sempat berbincang sejenak, hingga akhirnya bel masukpun berbunyi. Sintong beranjak dari duduknya, “Jangan lupa kau buka, ya. Aku duluan!” Sintong berucap sembari
tersenyum jahil pada Denok, membuat rasa penasaran Denok semakin besar.
Setelah kepergian Sintong, Denok membuka kotak hadiah dari Sintong.
Matanya membulat tatkala melihat sebuah buku dan sepucuk kertas didalamnya, buku yang ia dambakan setelah sekian lama namun tak kunjung terbeli karena selalu terjual habis.
Denok membuka sepucuk kertas yang tertempel pada bagian atas sampul buku lalu membukanya.
Semesta terus melaju,
Malam terus berlalu,
Kenangan kian termakan masa,
Bahkan hampir hilang tak bersisa.
Suka dan duka diarungi bersama,
Tawa dan tangis dilalui bersama,
Hingga pada akhirnya menyadari,
Arti persahabatan bukan sekedar materi.
Kita adalah sepasang sepatu,
Berjalan beriringan setiap waktu,
Segenap kita selalu menyatu,
Menyimpan kisah indah pada saat-saat itu.
Kita adalah seutas tali,
Yang terhubung pada satu sama lain,
Yang tak akan putus hanya karena tarikan jemari,
Yang akan abadi dalam sanubari.
Yusuf - 11 Juni 2024 07:01
ceritanya keren bgt