Posted by : Admin Dinarpus

  • 02 Oktober 2025

"SUKA DUKA BERSAMA"

Cerpen karya : Nazifa Anindya Rahmaning Ghassani

Siswi SMP N 2 Patebon

 

Rara dan Dina adalah sepasang sahabat yang sudah sangat lama bersama. Mereka bersekolah
bersama, bermain bersama, belajar pun bersama. Dina adalah anak yang baik, tapi sayangnya dia
sangatlah ceroboh, dan Dina juga memiliki sifat tersembunyi yang tidak orang tahu. Rara adalah
anak yang baik, dan juga pintar. Saking pintarnya, Rara kadang menyombongkan dirinya.
Suatu hari, Rara dan Dina janjian untuk bertemu di sebuah Cafe. Mereka akan mengerjakan tugas
bersama, tapi dengan mata pelajaran yang berbeda. Dina akan mengerjakan tugas PPKn, dan Rara
akan mengerjakan tugas Sejarah.
“Rara, aku mau tanya, boleh?”
“Boleh, tanya apa?”
“Kapan ya Bahasa Indonesia lahir?.”
“Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928, sebelum Indonesia merdeka.”
“Wah.. Sudah lama sekali.”
“Ya. Bahasa Indonesia pertama kali digunakan oleh para pemuda Indonesia ketika Sumpah
Pemuda. Mereka secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi
bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia, dan sebagai bahasa Nasional hingga sekarang.”
“Kemudian, mengapa bahasa Indonesia menjadi bahasa Nasional?”
“Karena bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, identitas nasional,
media penghubung antarwarga, dan media pemersatu suku, budaya dan bahasa di Nusantara.”
“Kalau bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928, kapan bahasa Indonesia ditetapkan
kedudukannya?”
“Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, ditetapkan kedudukannya tanggal 18 Agustus
1945.”
“Terimakasih sudah menjawab semua pertanyaanku. Kamu pasti suka membaca buku ya..”
“Iya. Aku suka sekali membaca buku tentang sejarah Indonesia. Nanti aku akan memperlihatkan
bukunya ke kamu.”
“Baiklah.’
Esok hari, saat di sekolah, ada murid baru, bernama Rani.
“Halo teman-teman.. Namaku Rani, aku dari Sekolah Harapan. Salam kenal semuanya. Semoga
bisa berteman dengan baik denganku.”
“Baik Rani, kamu duduk di sebelah Winda ya.”
“Baik bu.”
“Sini Rani. Namaku Winda.”
“Salam kenal Winda.”
Saat istirahat.
“Hai Rani. Namaku Rara.”
“Namaku Dina.”
“Hai kalian. Kalian sepertinya dekat sekali ya.”
“Iya. Aku dan Dina bersahabat. Sudah sejak lama.”
“Wah.. Keren sekali.”
“Ya. Ingin ke kantin?”
“Ayo kita bersama-sama.”
“Ayo.”
Saat pulang sekolah.
“Hai Rani. Mau pulang bersama?”
“Bagaimana dengan Dina?”
“Ah.. Tidak apa. Nanti dia pulang dengan Winda saja.”
“Baiklah.”
“Winda, apa kamu tahu dimana Rara?”
“Sepertinya tadi aku melihat Rara bersama Rani. Mereka berdua sudah pulang.”
“Rara meninggalkanku?!”
“Ayo pulang bersamaku saja, sudah lama aku tidak pulang bersamamu.”
“Baiklah. Terimakasih.”
Beberapa hari kemudian.
“Rara! Sudah beberapa hari ini kamu selalu bersama Rani! Mengapa?!”
“Dina. Memangnya aku tidak boleh bersama Rani?!”
“Bukan begitu. Aku hanya.”
“Sudahlah! Kamu memang tidak suka jika aku bersama Rani!”
“Rara!”
Rara pun pergi meninggalkan Dina di taman yang sepi. Rani yang melihat itu secara diam-diam,
hatinya pun senang, seakan sudah merencanakan ini semua.
“Rara! Mengapa kamu seperti ini?!”
“Mengapa aku seperti ini?! Ini semua karena ulahmu Dina!”
“Karena ulahku?! Memangnya aku salah apa?!”
“Kamu tidak suka, kan, jika aku bersama Rani!”
“Kalian ini kenapa?! Dari kemarin kok diam-diaman saja. Tidak bermain bersama seperti
biasanya.”
“Ini Win, Dina itu tidak suka jika aku bersama Rani.”
“Bukan begitu, Ra.. Aku hanya ingin tahu kenapa dari kemarin kamu selalu bersama Rani. Sudah
beberapa hari kita tidak bermain bersama.”
“Aku hanya ingin dekat dengan Rani, itu saja.”
“Tapi jangan sampai mengabaikanku.”
“Ya..”
“Nah. Sekarang sudah selesai ya masalahnya. Rara jangan sampai mengabaikan Dina, dan Dina
juga jangan terlalu membatasi Rara untuk berteman. Sekarang ayo kalian berbaikan dan bermaaf
maafan.”
“Maaf ya Dina. Aku salah sudah mengabaikanmu.”
“Aku juga minta maaf ya Rara.”
“Sama-sama memaafkan ya.”
Rani yang diam-diam melihat itu semua pun menjadi kesal.
“Ihh.. Kenapa sih harus maaf-maafan segala. Sudah benar rencanaku untuk memisahkan mereka,
malah disatukan kembali begini. Pokoknya aku harus tetap memisahkan mereka kembali bagaimana
pun caranya. Tapi, aku harus tetap bersikap seolah-olah aku tidak tahu semua kejadian ini.”
Rani yang selalu berusaha untuk memisahkan Rara dan Dina pun lama-kelamaan menjadi frustrasi,
karena selalu gagal untuk memisahkan mereka berdua. Beberapa hari kemudian.
“Dina, apa kamu tahu dimana dompetku?”
“Maaf Rara. Aku tidak tahu.”
Rani pun datang menghampiri mereka berdua di kelas.
“Yakin nih tidak tahu.”
“Aku memang benar tidak tahu, Rani.”
“Coba kita cek semua tas yang ada di kelas, siapa tahu ada yang mengambil dompetmu Ra.”
“Baiklah, ayo kita cek.”
Mereka pun mengecek semua tas yang ada di kelas. Tentu sudah izin dengan pemilik tas masing
masing. Saat mengecek tas milik Dina.
“Rara, lihat, aku menemukan sesuatu di tas Dina.”
“Apa itu?”
“Lihat. Ada dompetmu, Ra.”
“Ya ampun. Kenapa dompetku ada disini?!”
“Pasti dompetmu ini diambil Dina, Ra.”
“Tapi aku tidak mengambil dompetmu, Ra.”
“Benar kamu yang mengambil dompetku, Dina?”
“Benar, Rara.”
“Dina tidak mengambil dompetku, Ran.”
“Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Ra.”
Rara pun bingung ingin percaya kepada siapa. Akhirnya Rara pun lebih percaya kepada Rani,
karena Rara sudah kenal dekat dengan Rani, dan Rani melihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Aku tidak menyangka, bahwa kamu yang mengambil dompetku, Din.”
“Tapi aku benar-benar tidak mengambil dompetmu, Ra.. Jangan percaya pada Rani.”
“Aku sudah kenal dekat dengan Rani, jadi, dia tidak mungkin berbohong.”
“Rani yang memfitnahku, Ra.”
“Sudahlah. Kamu tidak perlu berbohong. Ayo Rani, kita tinggalkan Dina. Biarkan saja dia.”
“Ayo, Ra.”
Dalam hati, Rani pun senang sekali. Karena rencananya yang sudah ia susun dengan susah payah,
akhirnya berhasil.
Dina yang sudah di kambing hitamkan pun menjadi sangat sedih, karena dikhianati oleh teman dan
sahabatnya sendiri. Dina pun bercerita kepada Winda tentang masalah ini. Winda pun turut bersedih
atas kejadian yang menimpa Dina. Winda menemani Dina sampai tenang.
Sudah beberapa hari Rara dan Dina tidak saling menyapa. Kini, Dina sangat dekat dengan Winda.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama di sekolah. Dan Rara, selalu bersama Rani. Rara pun
menyadari, bahwa Dina tidak salah, tetapi Rani yang salah. Ada sesuatu yang mengganjal di hati
Rara. Kepercayaan Rara kepada Rani pun berkurang.
Rara yang melihat Dina dan Winda selalu bersama pun menjadi sedikit cemburu. Kecemburuan itu
lama-kelamaan menjadi besar. Rara selalu menengok Dina dan Winda yang selalu bersama, tapi
selalu dialihkan oleh Rani.
Tujuan Rani membuat Rara dan Dina bertengkar adalah karena Rani cemburu. Rani iri melihat
persahabatan Rara dan Dina. Rani pindah sekolah karena di sekolah lamanya Rani tidak memiliki
satu sahabatpun. Maka dari itu, di sekolah barunya, Rani ingin mendapatkan sahabat, tapi malah
dengan cara yang tidak baik.
“Din.. Kamu tidak ingin baikan dengan Rara?”
“Aku ingin. Tapi kan, Rara masih marah denganku.”
“Sebenarnya Rara sudah tidak marah lagi, lho, dengamu.”
“Yang benar?”
“Benar.. Buktinya, dia selalu melihat kita berdua saat dia sedang bersama Rani. Rara sebenarnya
tertekan lho, Din.”
“Tertekan kenapa?”
“Karena..”
Krinngg!
Bel pelajaran pun berbunyi. Mereka segera ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
“Anak-anak. Ibu ingin kalian mengerjakan tugas, secara berkelompok. Satu kelompok terdiri dari
dua anak. Kalian yang menentukan sendiri ya anggota kelompoknya.”
“Baik bu.”
“Ra, bersamaku yuk.”
“Baiklah.”
“Dina, aku bersamamu ya.”
“Baiklah. Ayo.”
“Tugasnya nanti dikumpulkan di meja Ibu, ya.”
“Baik, bu.”
Krinngg!
Bel pulang pun telah berbunyi. Dina dan Winda pun segera menyelesaikan tugas mereka, lalu
mereka mengumpulkan tugas di meja bu Lika. Sedangkan Rara dan Rani belum mengerjakan sama
sekali. Mereka terlalu lama berpikir sampai tak terasa jika bel sudah berbunyi. Akhirnya Rara dan
Rani pun tidak mengerjakan tugas dari bu Lika. Mereka pulang dengan sangat santai, seperti tidak
ada beban. Padahal, akan ada hukuman yang menanti mereka berdua besok.
Keesokan harinya, saat pelajaran bu Lika.
“Rara, Rani. Kenapa kalian berdua tidak mengerjakan tugas dari Ibu kemarin?!”
“Mengerjakan, bu.”
“Tapi lihat ini. Tidak ada nama kelompok kalian. Kalian berdua maju kedepan.”
“Mungkin kertasnya tertiup angin, bu.”
“Bohong, bu. Kemarin saya melihat mereka berdua hanya diam saja, tidak megerjakan.”
“Diam kamu, Ardhan. Aku dan Rara mengerjakan.”
“Apa benar kata Ardhan, Rara?”
“Benar, bu. Saya dan Rani memang tidak mengerjakan, karena kami tidak tahu caranya dan malas
untuk bertanya kepada bu Lika. Melihat teman-teman yang lain sudah mengumpulkan tugas, kami
jadi malas mengerjakannya, karena sudah mau bel pulang juga, bu.”
“Ya ampun. Karena Rara sudah jujur kepada Ibu, Rara tidak usah dihukum, tapi mengerjakan tugas
yang kemarin.”
“Baik, bu.”
“Rani! Kamu ini sudah tidak mengerjakan tugas, masih saja berbohong. Kamu akan Ibu bawa ke
BK. Ayo ikut Ibu ke BK.”
“Baik. Maaf bu.”
Rani pun dibawa ke BK untuk ditindaklanjuti karena sudah tidak mengerjakan tugas dan
berbohong.
“Anak-anak. Ibu menyuruh kalian mengerjakan tugas ini karena ini adalah tugas yang sangat
penting. Untuk nilai keterampilan rapor kalian. Jika kalian mengerjakan dengan serius, maka akan
mendapat nilai yang memuaskan. Jangan jadi seperti Rani ya, anak-anak.”
“Baik, bu.”
Dalam hati Rara berkata “Sepertinya aku harus meminta maaf kepada Dina, karena sudah percaya
pada Rani. Padahal aku juga yakin kalau yang mengambil dompetku itu Rani sendiri, bukan Dina.
Aku akan meminta maaf pada Dina setelah ini.”
“Dina. Aku ingin minta maaf. Karena sudah percaya pada Rani. Aku juga yakin bahwa kamu tidak
akan pernah mengambil dompetku.”
“Baiklah, Rara. Aku memaafkanmu.”
“Sebenarnya, aku sudah melihat bahwa Rani yang mengambil dompetmu, Ra. Lalu, Rani
memindahkan dompet Rara ke tas Dina.”
“Aku sebenarnya sudah punya firasat yang buruk hari itu. Rani kok bisa ya mengkambinghitamkan
aku. Atau aku punya salah ya dengannya.?”
“Tidak, Din. Kamu tidak punya salah dengan Rani. Saat Rani pertama kali masuk ke kelas, ia
melihat kalian berdua yang begitu akrab. Saat hari kedua, ia bercerita bahawa alasan ia pindah
sekolah karena ia tidak punya sahabat di sekolah lamanya. Jadi, ia pindah sekolah untuk mencari
sahabat. Dengan cara memisahkkan kalian berdua.”
“Ya ampun. Rani tega sekali sampai ingin memisahkan aku dan Rara.”
“Biarkan saja dia. Rani pasti terkejut melihat kalian berdua sudah berbaikan.”
“Iya, Win. Aku yakin sekali jika dia sudah melihat kami berdua berbaikan, ia pasti akan sangat
menyesal.”
“Iya, Ra.”
“Maafkan aku juga ya, Winda.”
“Iya, Ra. Tak apa. Lain kali jangan diulangi lagi ya.”
“Baiklah.”
Saat pulang dari BK, Rani melihat Rara dan Dina sudah berbaikan. Rani pun bingung, padahal
sebelum Rani ke BK, mereka berdua masih bertengkar.
Sudah beberapa hari, Rani menyendiri. Karena Rani merasa bersalah, ia pun ingin meminta maaf
kepada Dina, tapi ia takut. Kini, tak ada anak yang ingin dekat dengannya, karena sifat egoisnya itu.
Rani pun menjadi stress, dan akhirnya memutuskan untuk pindah sekolah lagi.
Akhirnya, Rara, Dina, dan Winda pun menjadi sahabat. Rara pun belajar dari kesalahan, bahwa
jangan mudah percaya dengan orang baru, walaupun orang itu lebih baik dari sahabatmu sendiri.

 

----------- #KamisMenulis

Sumber ilustrasi gambar : Berhijab Gambar Kartun Persahabatan 2 Orang Perempuan Muslimah - 12 Kartun Persahabatan Muslimah Anak Cemerlang - Enid Dach

Comments

Leave A Reply