Posted by : Admin Dinarpus

  • 27 November 2025

SIKLON DATANG BENCANA MENERJANG

Oleh : Muhamad Kundarto
Pengelola Unit Publikasi Newsletter - Pengurus HITI Pusat
Tim Teknis Proklim KLH
Dosen UPN "Veteran" Yogyakarta

 


PENDAHULUAN

Sebuah slogan “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita”, sering diucapkan oleh komunitas masyarakat pelestari lingkungan. Slogan ini memuat filosofi alam yang sangat mendalam menyangkut hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk Tuhan diberikan hadiah bumi beserta isinya, sekaligus diberikan tantangan untuk mengelolanya.

 

Ekosistem yang berlangsung secara alami dan mendaur ulang bersama keberadaan flora dan fauna, akan mengalami intervensi manakala para manusia berusaha memanfaatkannya dengan dalil ekonomi, pengembangan wilayah, dll. Campur tangan manusia inilah yang agaknya dominan membuat kerusakan daripada melestarikannya.

 

Bicara permasalahan dan solusi bidang lingkungan hidup, tak semenarik pembahasan politik, ekonomi dan sosial. Umumnya, permasalah lingkungan menjadi penting ketika terjadi kehebohan bencana lingkungan. Apalagi jika bencana tersebut diperparah dengan perilaku manusia yang selama ini cenderung terjadi pembiaran secara sistemik. Saat terungkap, mulailah ramai membahas siapa yang salah, seiring dengan mengalirnya bantuan kemanusiaan. Anehnya, penyebab utama kerusakan lingkungan sering terabaikan tanpa solusi apabila penanggulangan korban sudah dilakukan.

 


ASPEK HIDROMETEOROLOGI

Mari kita bahas permasalahan bencana lingkungan ini, terutama kejadian cuaca ekstrim berupa curah hujan jauh di atas normal yang mengguyur beberapa provinsi di ujung pulau Sumatera dan mengakibatkan bencana banjir dan longsor yang menelan banyak korban jika dan harta benda. Kita perlu memahami fenomena ini dengan kupasan dari sisi langit dan sisi permukaan bumi.

 

Posisi matahari pada akhir November ini sudah berada di sisi selatan garis katulistiwa dan akan mencapai paling selatan pada 22 Desember. Hujan akan mengikuti posisi matahari, artinya pergerakan air saat ini dari utara (benua Asia) menuju selatan (benua Australia). Pergerakan angin yang membawa uap air optimal ini berpotensi mengalami benturan dengan suhu lingkungan tinggi dan kondisi permukaan bumi.

 

Fenomena dari sisi langit adalah kehadiran Siklon yang makin sering muncul di wilayah negara Indonesia. Bahkan dalam satu waktu yang sama bisa muncul 2-3 Siklon sekaligus. Fenomena kemunculan tentang Siklon tidak terlepas dari dampak perubahan iklim. Perubahan suhu bumi yang cenderung meningkat dalam beberapa dekade ini membuat ‘perilaku’ angin yang makin ‘liar’. Angin terbentuk dari perbedaan suhu dingin dan panas. Semakin beda suhu, gerakan angin makin cepat. Sebaran suhu panas dan dingin yang berubah secara cepat akan mendorong terbentuknya angin berputar, dimana dalam skala kecil disebut angin lesus/topan dan skala besar sampai ratusan Km adalah Siklon. Misalnya fenomena kemunculan Siklon di ujung barat Pulau Jawa bisa berdampak sampai wilayah Jawa Tengah. Terkini adalah fenomena kemunculan Siklon Senyar yang berdampak pada beberapa provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Siklon sering menimbulkan curah hujan ekstrim di atas 150 mm/hari. Padahal curah hujan > 50 mm/hari sudah dikatakan sangat deras. Sementara hujan ekstrim dari Siklon ini bisa mencapai 300 mm/hari. Akibatnya kontruksi bangunan drainase dan tubuh air di permukaan bumi sering tak mampu menampung secara optimal, sehingga berpotensi menjadi banjir dan longsor dalam skala besar.

 


ASPEK SUMBERDAYA LAHAN

Fenomena dari sisi permukaan bumi adalah keberadaan berbagai penggunaan lahan, dimana tutupan vegetasi seperti hutan dan kebun, akan semakin berkurang luasannya, berubah menjadi pertanian tanaman semusim, penebangan hutan tanpa reboisasi, permukiman, dll. Kondisi ini akan semakin mengurangi kemampuan permukaan tanah dalam meresapkan air. Air permukaan (runoff) akan semakin besar, yang terakumulasi menjadi banjir bandang dan banjir di berbagai tubuh air (sungai, danau, situ, bendungan, dll). Gempuran air dari atas juga mendorong terjadinya longsor dan banjir yang mampu mengangkut berbagai material padatan, seperti kayu gelondong, bangunan rumah, jembatan, dll.

 

Kejadian banjir yang membawa sedimen tanah (lumpur pekat) dapat dimaknai dengan makin rusaknya Daerah Aliran Sungai kawasan Hulu atau makin berkurangnya tutupan vegetasi di kawasan peresapan air. Artinya aliran permukaan juga mengangkut material tanah dan biomassa dari kejadian erosi dan longsor. Munculnya banyak kayu gelondongan dengan potong-potongan dari alat (baca: hasil penebangan hutan), makin kuat membuka ‘aib’ kejadian di dalam hutan. Patut diduga di banyak kawasan hulu, yang seharusnya kawasan hutan dan kebun campuran, ternyata banyak terjadi penebangan dan pembiaran tanpa penanaman kembali.

 


MEMADUKAN ANTAR ASPEK

Melihat fenomena langit, yaitu kehadiran Siklon dan curah hujan ekstrem, sepertinya jalan terbaik saat ini adalah meningkatkan kemampuan adaptasi, agar bisa meminimalisir potensi kerusakan yang bisa ditimbulkan. Namun melihat fakta di permukaan bumi dengan kejadian banjir bandang, banjir dan longsor, yang membawa material tanah, kayu gelondongan dan kerusakan bangunan; hal ini menyadarkan ada perilaku yang salah dari banyak manusia dalam merawat lingkungan, seperti penebangan hutan, pertanian semusim dan permukiman pada kelerengan tinggi, dll. Ini salah siapa? Sepertinya banyak jamaah (gabungan banyak orang) yang terlibat, baik illegal maupun terlindung oleh legalitas. Pembahasan korupsi yang sangat sistemik di hilir, sepertinya juga diwarnai oleh pengrusakan kawasan hulu oleh banyak pihak.

 

Terlepas dari urusan dalil hukum, perbaikan lingkungan membutuhkan waktu puluhan tahun. Ibarat membuat hutan dari lahan gundul, baru bisa menghasilkan mata air pada kisaran waktu usia tanaman 30-40 tahun. Namun perusakan hutan dapat dilakukan dalam hitungan bulan. Banyak pihak melakukan propaganda sampai aksi penanaman pohon, namun sangat jarang yang mengawal pepohonan itu sampai lebih dari 10 tahun. Kecuali segelintir orang tokoh lingkungan yang sering dicap ‘aneh’ oleh lingkungan sekitarnya. Secara birokrasi, perbaikan lingkungan membutuhkan durasi jangka panjang 25 tahun (baca: 5x periode kabinet pemerintahan). Sementara demokrasi kadang memberi ruang antar pemerintahan yang berbeda cenderung membuat kebijakan yang berbeda pula. Kita jadi rindu perencanaan dan penerapan pembangunan dalam jangka pendek 5 tahun sampai jangka panjang 25 tahun dengan pengawalan yang konsisten, dengan menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan.

 


PENUTUP

Membahas kejadian bencana dengan banyaknya korban dan besarnya kerugian memang sangat menarik perhatian para pihak. Namun solusi riil membutuhkan kejelian sekaligus pengawalan dalam jangka panjang. Beberapa solusi yang perlu direalisasikan adalah : (1) melakukan kajian dan revisi perundangan yang tumpang tindih dan merugikan pelestarian lingkungan, (2) melakukan penegakan hukum pada semua lapisan atas sampai bawah, (3) menerapkan kaidah konservasi tanah dan air dalam pemanfaatan lahan, (4) aktif melakukan perbaikan lahan (rehabilitasi, reklamasi (revegetasi), reboisasi, ameliorasi, dll) pada lahan yang rusak dan marginal, dan (5) melibatkan semua pihak (pemerintah, perguruan tinggi, asosisasi pakar terkait, perusahaan, dan masyarakat) dalam mengelola lingkungan secara lestari.

 

* sumber ilustrasi gambar https://sekato.id

Comments

Leave A Reply