Posted by : Admin Dinarpus

  • 23 Oktober 2025

"Ketulusan Amara"

Cerpen oleh : Nadia Zahra

Siswi MTs N 2 Kendal

 

“Pagi Amara-!” sapa Syeira dengan wajah riang begitu memasuki kelas. Ia sudah menebak bahwa
gadis berambut coklat dengan bibir merah yang duduk di sebelahnya sudah datang lebih dulu darinya.
Gadis yang dipanggil Amara itu segera menoleh cepat. “Syeira! Astagaa aku begitu merindukanmu”
ucap Amara.


Syeira Glorye. Gadis dengan watak cerewet yang super duper pemarah. Rambut nya pendek hitam
legam. Mata nya juga hitam. Dia gadis yang tomboy dan jago dalam permainan basket. Paling tidak
suka soal Matematika. Ia suka sekali dengan yang namanya coklat Van Houten.
Cloe Tamara. Gadis yang lebih dikenal dengan panggilan Amara ini adalah gadis cerdas yang terkenal
di sekolahnya. Karena dia sering diandalkan guru untuk mengikuti kompetisi di daerah maupun luar
daerah. Amara adalah gadis blesteran inggris-Indonesia. Ia sangat menyukai kegiatan melukis atau
menggambar. Paling menyukai keripik kentang.


Mereka adalah dua sahabat sejak TK yang selalu bersama. Orang tua mereka pun bersahabat sejak
Sekolah Dasar dan memutuskan sukses bersama. Bahkan, saat melahirkan mereka pun di rumah sakit
yang sama. Selalu bersama. Persahabatan Amara dan Syeira bahkan populer di Sekolah Menengah
Pertama ini. Walaupun keterbelakangan mereka tidak sama, mereka tetap bersahabat dan melengkapi
satu sama lain. Mereka disebut “Duo Berstie”.


Syeira meletakkan tas punggung coklat milik di kursi kemudian menggeserkan kursi lebih dekat agar
dapat melihat buku biru bersampul naga emas yang di baca oleh Amara. “Woahhh buku yang keren.
Aku ingin meminjamnya. Apakah seru?” tanya Syeira berbinar-binar.
“Eitsss tidak tidak. Ini diary kesayangan milikku. Jangan coba mengambil ya!” Amara dengan cepat
menaruh buku di teas selempang merahnya. “Uhh aku lelah setelah seharian main game kemarin
rasanya malas sekali untuk bersekolah.”
Syeira hanya menggelengkan kepalanya. “Kamu tahu tidak? Satu bulan lagi adalah bulan yang
saaaangat istimewa. Tebakk?” Syeira menaik-turunkan alis nya seraya memasang senyum lebar.
Dengan tatapan berharap, semoga Amara tidak melupakan bulan itu.
Amanda memasang raut wajah yang berpura-pura keheranan. “Apa maksudmu? Bulan depan kan,
bulan Mei? Oh? Apa ulang tahun ku ya?” tebak Amanda. Ia menahan tawa ketika melihat sahabat
nya yang raut wajah nya berubah menjadi jengkel.
Syeira mendengus kesal. Ia melipat tangan nya. “Memang benar. Tapiii ah, bukan itu! Coba tebak
lagi. Yang benar saja. Masa kau lupa bulan, hari dan tanggal itu.” Kata Syeira.
“Ra, sudahlah. Nanti saja. Miss Selena sebentar lagi akan memasuki kelas. Aku harus membaca buku
terlebih dahulu.” Ucap Amara mengalihkan pembicaraan.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk.” Miss Selena berkata seraya
mempersilahkan seorang gadis dengan rambut panjang terikat memasuki kelas 7-B.
“Hai, namaku Kaira Leanna Irawan. Aku biasa di panggil Kaira. Aku berasal dari ibu kota, Jakarta.
Semoga kita bisa berteman baik.” Murid baru dengan rambut terikat dan wajah manis bernama Kaira
itu tersenyum lembut ke seluruh murid.
“Baiklah Kaira, kamu bisa duduk di samping Erin. Erin, angkat tangamu.” Pinta Miss Selena. Erin,
yang duduk di belakang bangku Amara dan Syeira mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
Kaira segera berjalan melewati murid lain dan duduk di samping Erin. Keliahatannya ia begitu ramah
dan cantik.
“Hai, Aku Kaira. Kamu?” tanya nya pada Syeira.
Syeira gelagapan menjawab. “Eh, Aku Syeira Glorye, panggil saja Syeira.” Jawab Syeira dengan
senyum tipis.
“Oh, baik Syeira.” Kaira mengangguk lalu segera mengeluarkan buku catatannya.
Amara terlihat bingung dengan Kaira. Kenapa dia tidak menyapa Erin yang duduk persis di sebelah
nya. Lalu, kenapa hanya Syeira yang di ajak berkenalan sedang kan Amara tidak. Namun, Amara
membuang pikirannya jauh-jauh karena ia melihat Erin yang seakan tidak peduli apa yang dilakukan
oleh Kaira. Amara buru-buru menulis materi ilmu fisika di papan tulis.
Bel istirahat berbunyi. Murid-murid terlihat berhamburan keluar kelas. Tapi, murid di kelas 7-B
malah mengerubungi bangku Kaira dan mengajaknya berkenalan. Bangku yang di tempati Erin
terlihat sesak dan berisik oleh suara murid-murid perempuan yang mengajak berkenalan. Syeira
sampai tidak tahan terus menerus di sana.
“Duh, sungguh menyebalkan. Hei Amara, ayo ke kantin aku ingin makan bakso buatan Mang Dana.”
Syeira menarik-narik tangan Amara.
Amara melipat kening nya. “Iya! Jangan tarik tanganku dong, sakit tahu!” tepis Amara. Tangan nya
memerah akibat ditarik terlalu keras oleh Syeira.
Syeira nyengir kuda dan segera berjalan menuju pintu kelas. Tiba-tiba, seseorang menarik tangannya.
Ia baru sadar bahwa yang menarik nya adalah Kaira gadis itu mengabaikan tatapan murid lain dan
segera bangkit.
“Ah? Eh, maaf Kaira apa aku menyenggolmu?” tanya Syeira dengan wajah bingung.
Amara melipat keningnya. Dia kan tidak ngapa-ngapain. Amara menunggu di belakang Syeira
mengamati Kaira yang kelihatannya sangat ramah pada Syeira.
Kaira menggelengkan kepalanya pelan. “No.Aku hanya ingin ke kantin bersama mu. Kamu juga bisa
membantuku berkeliling sekolah. Iya kan?” tanya Kaira dengan senyuman.
Amara berdecak dan segera menarik tangan Syeira. “Syeira akan makan bersamaku juga, sebaiknya
kamu hanya menumpang.” Ucap Amara sedikit kesal. Murid-murid perempuan lainnya memilih
untuk melakukan hal lain dari pada mengerubungi mereka bertiga.
Kaira yang semua memasang wajah sok polos. Akhirnya melepaskan genggaman tangannya. “Begitu
kah? Wahhh kalian benar-benar bersahabat ya? Baiklah aku akan menumpang lalu pergi....” ucap
nya.
“Ya.” jawab Amara singkat.
Syeira hanya memandang wajah Amara yang terlihat kesal. Lalu menatap Kaira dengan senyum
masih tertahan di wajah nya.
Bel masuk telah berbunyi 10 menit yang lalu. Guru pun tidak ada yang memasuki kelas. Syeira sedari
istirahat tadi sibuk mengobrol dengan Kaira. Amara hanya mendengarkan dan melamun tidak
mengerti apa yang di bicarakan. Syeira memutra tubuh nya menghadap kebelang seraya mengobrol
dengan Kaira. Mereka hampir serasi. Sama-sama berasal dari Jakarta. Entahlah, Amara pun berasal
dari Surabaya yang pindah ke Jakarta lalu ke Semarang tempat ia tinggal saat ini.
Di sela-sela pembicaraan Kaira dan Syeira, tiba-tiba Kaira menceletuk. “Apa aku boleh menjadi
sahabat mu?”
Sontak Syeira dan Amara terkejut. Baru saja Kaira masuk hari itu, namun sudah ingin mengajak
Syeira untuk bersahabat. Apalagi, Kaira kan seharus nya tahu bahwa Syeira sudah memiliki sahabat
yaitu Amara. Amara menghembuskan nafas pelan. Tangannya masih bergerak menggambar suasana
kelas.
Syeira melirik Amara. Lalu kembali menatap Kaira yang wajah nya memelas. Syeira sebenarnya tak
tega, namun demi mempertahankan persahabatannya dengan Amara, ia menjawab. “Kenapa kita
tidak teman saja? Kita masi bisa saling menyapa dan mengobrol.” Tanya Syeira.
Kaira terdiam sejenak. Lalu melirik ke arah lain. Sedetik kemudian, ia memutar bola matanya.
“Hah...baiklah.” jawabnya pelan.
Syeira hanya membalas dengan tersenyum kecil.
Syeira ikut duduk dan menatap sahabatnya. “Kau jangan terlalu begitu...dia hanya ingin berteman,
itu saja. Lagi pula dia kan anak baru. Kasihan kalau belum memiliki teman satu pun.” jelas Syeira.
Namun, di hatinya tersimpan rasa tidak enak.
Amara membuang nafas kesal.
“Oya, kau sudah ingat bulan depan ada apa? Itu begitu istimewa. Benar tidak ingat? Rasanya aneh
kamu betul-betul tidak ingat yang kita rayakan 10 tahun ini.” Syeira mencoba membahas hal tadi
pagi.
Amara kembali tersenyum jahil. “Hahhaha. Tidak ada yang kuingat selain hari ulang tahunku. Syei.”
Lagi-lagi. Apa benar dia melupakannya? Batin Syeira dengan raut wajah yang kesal. Tiba-tiba ia di
kagetkan suara panggilan yang tidak asing lagi kedengarannya. Saat ia mengangkat kepala, tepat di
hadapannya seorang gadis dengan kucir rambut dan wajah yang sedikit kusut karena kelelahan.
“Hai Syeira! Aku mencarimu kemana-mana. Lelahnya. Kamu kesini bersama emm Amara?” Kaira
melirik Amara yang acuh tak acuh.
Syeira tersenyum tipis. “Ada apa kamu mencariku?” tanya Syeira.
Kaira nyengir kecil. “Aku hanya ingin pulang bersamamu.” Ucap nya malu.
Amara mengerutkan dahi. Buru-buru ia berdiri dan menarik tangan Syeira. “Bukankah rumah mu
jauh? Kau ingin menyusahkan Syeira atau bagaimana sih? Lebih baik aku yang pulang bersamanya
karena rumah ku dan rumah nya di daerah perumahan yang sama.” jawab Amara ketus. Syeira
bingung dan akhirnya lebih mengikuti Amara.
Amara menatap kebelakang. Dan mendapati bahwa wajah Kaira yang merah padam karena marah.
Amara sedikit terkejut kemudian langsung memalingkan wajah.
2 minggu berlalu cepat sejak kedatangan Kaira. Amara begitu risi Kaira terus menempel pada Syeira
bila di suruh menjauh pun dia tidak mau. Amara terus memperhatikan Kaira. Semakin hari sifatnya
semakin menjengkelkan. Akhirnya dia tahu apa tujuan Kaira sebenarnya. Marebut posisi Amara yang
sebagai sahabat Syeira.
“Anak-anak, kalian kan tahu, hari ini pengumpulan hasil seni lukisan. Miss baru tahu bahwa Amara
dan Syeira mengikuti lomba ini. Untuk kalian berdua, selesaikan dengan baik lukisan kalian ya...sore
nanti di kumpulkan” ucap Miss Gina guru seni budaya kami.
Amara dan Syeira menangguk serempak.
Istirahat....
“Hai, Syeira ayo ke kantin berdua.” Ajak Amara.
Syeira menaruh buku nya di laci meja dan menoleh. “Ha? Oh ayo! Aku juga lapar.” Syeira menarik
pergelangan tangan Amara menuju pintu kelas.
Sebelum mereka benar-benar keluar dari kelas. Amara melihat dengan jelas senyuman sinis dari
wajah Kaira yang mengarah padanya. Amara benar-benar tidak tahu maksudnya dan
mengabaikannya.
Selesai makan mie ayam dan es teh kesukaan Amara dan Syeira, mereka segera kembali ke kelas.
“Aku akan melanjutkan lukisanku di sekolah...kau mau menemani?” tanya Syeira.
Amara mengangguk mantap. “Tentu saja kawan...” jawab Amara.
Begitu memasuki kelas, Amara segera duduk di bangku dan mulai menulis diary. Sedangkan Syeira
mencari-cari sesuatu dengan bingung dan keringat yang bercucuran. Wajahanya terlihat tegang. Ia
bahkan sampai mengobrak-abrik isi laci meja dan tas nya. Amara yang sibuk menulis diary tidak
sadar apa yang di lakukan sahabatnya.
“Amara..?” panggil Syeira lirih.
Amara segera mengangkat wajah nya. “Ada apa? Kenapa wajah mu tegang?” tanya Amara penasaran.
“L-lu-lukisan ku...h-hi-hilang!” jawab Syeira dengan suara bergetar.
Amara ikut terkejut dan segara mengobrak-abrik tas milik Syeira. “Jangan bercanda, di mana kau
menaruh nya?” tanya Amara.
Syeira menggeleng cepat. “Aku sungguh tidak tahu, sungguh.” Ucap nya dengan suara yang lemah.
Kedua kaki nya lemas.
Kaira datang dengan wajah penasaran. “Hei Syeira...eh? Kenapa wajah mu? Ada apa ini?” tanyanya.
Amara menoleh ke arah Kaira. Dia berfikir itu pasti Kaira. “Lukisan Syeira hilang. Apa kau yang-“
sebelum Amara melanjutkan, ucapannya sudah di potong oleh Kaira.
“Bagaimana kalau kita geledah seisi kelas?” usul Kaira. Sebenarnya Amara hendak menolak karena
tidak mungkin ada yang mau mengambil hasil lukisan Syeira. Namun, usul Kaira di terima oleh Kaira.
Akhirnya seisi kelas di geledah yang terakhir adalah tas milik Amara. Amara tenang-tenang saja
karena tidak mungkin dia mencuri hasil lukisan milik sahabatnya sendiri. Namun, begitu tas di
geledah, ekspresi para murid berubah dengan dahi terlipat kecuali Erin.
Syeira mengangkat wajah nya. “A-ap-apa maksudmu ini?” Syeira mengangkat sebuah potongan kain
canvas yang benar-benar rusak.
Amara begitu terkejut melihatnya,. Ia tidak merasa dirinya lah yang mengambil. “T-tapi itu bukan
aku! Bagaimana aku mencurinya sedangkan sedari tadi kita berdua di kantin?” tanya Amara.
“Bisa saja kau merusaknya saat aku dan Syeira sedang ke ruang BK untuk mengambil barangku?”
sahut Kaira.
Amara bingung plus terkejut bagaimana lukisan milik Syeira ada di sana. Bahkan sudah koyak dan
penuh coret. “Aku tidak tahu sungguh! Bukan aku yang merusaknya. Kau percaya padaku kan Syeira.
Syeira...?” Amara melihat Syeira yang sudah menunduk dengan air amata yang menetes.
“Aku tahu, aku tahu bahwa aku akan kalah dalam hal melukis denganmu. Kau lebih pintar. Tapi
jangan kau buat karya orang lain tidak berharga di matamu dan merusaknya. Mungkin kau tersaingi
tapi jangan begini.” Ucap Syeira lirih.
Amara benar-benar tidak mengerti. “Tapi bukan aku yang merusaknya! Aku ini sahabatmu
Syeira...mana mungkin aku seperti itu.”
“Lalu bagaimana kau menjelaskan apa yang terjadi sekarang?” tanya Syeira terdengar isakan kecil
yang di tahan. Kelas begitu hening.
Amara terdiam. “Tidak bukan aku! Kau benar-benar tidak percaya padaku Syeira? Kau lebih percaya
pada Kaira?” Amara melirik Kaira. Wajah nya di lukisi senyuman seringai dan tatapan mata yang
meremehkan. Amara mengerutkan dahi. Ia langsung tahu ini pekerjaan Kaira.
“Hah...aku kira kau sahabat yang bisa di percaya selama 10 tahun lamanya. Ternyata tidak. Aku
kecewa padamu...” Syeira segera menjauh dan diikuti Kaira. Murid-murid yang mengelilingi kembali
ke temat duduk dan mulai berbisik-bisik.
“Tidak...bukan aku.” Ucap Amara dengan kepala yang menunduk dalam.
Hampir selama 2 minggu hubungan Amara dan Syeira meregang. Dan banyak isu bahwa Amara yang
memrusak hubungannya sendiri karena fitnah tentang lukisan itu. Syeira jadi lebih akrab dan menjadi
dekat dengan Kaira. Bahkan tempat duduk nya pun di tukar.
Rasanya berbeda tanpa Syeira. Batin Amara. Hari-harinya hanya di lukisi kesepian. Amara jadi lebih
pemurung dan suka menyendiri. Ia bertekad akan membuktikan bahwa bukan dirinya yang
melakukannya. Hampir setiap hari pertanyaan-pertanyaan ia lontarkan kepada teman-teman kelas
nya. Dan semua menjawab “Tidak tahu”.
“Syeira,,,” panggil Amara.
Syeira yang saat itu sedang asik mengobrol dengan Kaira, menoleh. “Apa?” tanya Syeira dingin.
Kaira menatap gusar Amara.
Amara menelan ludah nya. “Kau sungguh...sungguh tidak percaya padaku?” tanya Amara.
Syeira spotan terdiam lalu mengerutkan kening. “Kau kan tahu aku bukan orang suka di bohongi.
Kau merusak lukisan ku. Kau tidak mengaku. Itu sama saja berbohong bukan? Kenapa kamu tidak
mengaku dan menganggapsemua nya selesai. Tentu aku memaafkanmu. Tapi yang terjadi lain.”
Syeira menatap Amara.
“Tapi itu bukan a....“
“Harus nya kau tahu. Aku BENCI PEMBOHONG.” Ucap Syeira dengan intonasi yang sangat di
tekan.
Hati Amara bagai di tusuk duri yang begitu tajam. Dadanya sesak dan matanya memanas. Dengan
susah payah menahan tangis, ia pergi dan berkata lirih.
“Tukang tuduh.” Ucap nya.
Amara melangkah lunglai dan segera duduk. Dilihatnya Erin sedang fokus membaca buku paket
fisika nya. Amara menghembuskan nafas kesal dan sesekali menarik ingus nya. Ia benar-benar tidak
kuat . Padahal 2 hari lagi adalah ulang tahun persahabatan mereka yang ke 11 tahun dan tanggal
kelahiran Amara. Dia bingung, kesal, marah dan benci. Tapi, ia tahu. Akan sulit mendapat
kepercayaan Syeira lagi.
Begitu pulang sekolah, Amara hendak langsung menghampiri Syeira. Namun, matanya menangkap
sosok anak perempuan dengan pita pink yang selalu terpasang dikepalanya. Rubah licik. Itu adalah
Kaira. Dilihatnya Kaira dan Syeira tengah mengobrol dengan senyuman lebar di wajah mereka.
Amara menunduk. Senyuman sahabatnya tidal lahi untuknya melainkan anak perempuan penghancur
sahabatnya. Ia hanya bisa memandang dengan rasa sedih yang menyergap hatinya. Mereka berdua
mulai jalan menjauhi tempat berdirinya Amara.
“Apa dia benar-benar benci jika lukisannya rusak?” gumam Amara pelan.
Amara berjalan gontai menuju pohon yang biasanya ia bersama Syeira. Ia merebahkan dirinya ke
batang pohon. Suasana begitu sepi tanpa adanya kehadiran Syeira. Mata Amara mulai memanas.
“Apakah kamu lebih percaya dengan Kaira dari pada aku? Aku sahabat mu Syeira, bagaimana kamu
tidak mempercayaiku? Aku tidak mungkin merusak karya milikmu yang indah itu. Aku tahu kamu
susah payah membuatnya. Tapi bukan aku yang merusaknya. Kenapa kamu percaya dengan Kaira
dan tanpa bukti yang jelas? Apa sekarang kamu benar-benar membenciku karena itu. Kaira gadis
yang licik. Harusnya kamu tahu. Aku tidak tahu pasti siapa yang menaruh lukisan iti di ransel ku.
Aku juga tidak bisa berbohong dengamu. Bukankah kamu tau itu? Hiks...hiks.” sadar akan yang dia
ucapkan dari dalam hatinya. Amara menangis dalam diam.
Padahal, hari ulang tahun persabatan mereka besok, namun, fitnah lah yang membuat hubungan
Amara dan Syeira meregang. Amara tidak tahu harus berbuat apa. Di dalam tangisannya, ia tidak
tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Hari ini adalah hari minggu.. Pagi yang cerah bagi Amara karena ini hari ulang tahunnya. Ulang tahun
persahabatan nya dengan Syeira pun hari ini.. Rumah nya hendak di buatkan acar ulang tahunnya
yang di hadiri oleh keluarga dan teman-temannya. Pesta itu begitu meriah. Setelah 30 menit berjalan,
Amara bingung. Dimana kah sahabatnya?. Ia menunggu di teras rumah menunggu. Dia harap fitnah
itu tidak sampai membuat Syeira melupakan hari ulang tahunnya.
Hampir 15 menit ia menunggu tapi tak ada sosok yang dia cari. Di dalam rumah masih ada suara
suara obrolan bibi Sinta dan mama Amara.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Amara yang membuat nya tersentak. Dengan cepat ia
membalikkan badan dan di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya yang tengah tersenyum.
“Kenapa murung? Oya, di mana Syeira?” tanya papa Amara penasaran.
Amara menggeleng. “Entah, mungkin dia lupa.” Jawab Amara lesu.
Papa Amara tersenyum tipis. “Tidak ada yang bisa melupakan persahabatan yang terjalin selama 11
tahun Amara, seperti mamamu dengan ibu Syeira. Mungkin dia terlambat atau sedang menyiapkan
suprise untuk mu.” Ucap papa Amara.
Amara akhirnya mengangguk senang. “Amara akan mencari Syeira.” Kata Amara bersemangat.
“Gitu dong, jangan murung, Cari dan ajak Syeira kemari ya?”
Amara segera berdiri dan berlari dengan gaun emas selutut yang bergerak-gerik terkena angin.
Amaramencari kerumah Syeira namun tidak ada. Bibi Syeira berkata bahwa Syeira pergi ke taman
kota.
“Kaira!” batin Amara kemudian segera pergi ke arah taman kota.
Dan benar saja Syeira ada di sana dengan baju putih berlengan panjang dan celana jeans se mata kaki.
Ketika hendak menyapa dari jauh, ia begitu kaget melihat Kaira yang menghampiri dengan baju yang
sama seperti Syeira
“A-apa..? Kenapa Kaira ada di sana?” Amara yang bingung langsung menghampiri Syeira dan
menyapanya.
“H-hai Syeira.” Sapa Amara.
Syeira yang mendengar namanya di sebut berbalik begitu juga Kaira.
“Amara?” tanya Syeira yang kaget Amara berada di taman kota juga.
Amara tersenyum kecut. “Kamu tidak lupa kan hari ini-“
“Apa? Hari ini? Aku tidak mengerti.” Tatapan Syeira begitu dingin.
Kaira begitu sinis menatap Amara. Ia masih terdian di samping Syeira.
“Hari ini kan ulang.......“
Syeira mengerutkan dahi. Wajah nya memerah padam. “Lalu apa hubungannya dengan ku? Kamu
saja tidak ingat apa yang kita jalani selama 11 tahun. Sekarang kamu menganggap persahabtan kita
tidak berharga juga seperti lukisan itu? Apa yang lebih berharga adalah ulang tahun mu? Kau benar
bbenar egois.” Syeira benar-benar marah. Amara diam membeku dibuatnya.
“Tapi bukan aku yang merusaknya! Kamu benar-benar tidak percaya?” tanya Amara lagi. Dadanya
sesak menhanan tangisan.
“Kamu benar-benar pembohong...aku tidak menyangka akan membencimu. Sepertinya 11 tahun itu
akan sia-sa. Syeira mulai melangkahkan kakinya.
Amara menggeleng dan menggenggam tangan Syeira erat. “Aku mhon, jangan begini.”
TAK
Syeira menepis kasar lengan milik Amara kemudian segera pergi. Ditinggalkannya Kaira yang
mematung melihat konflik Amara dan Syeira. Syeira berjalan seraya menangis. Terdengar suara
panggilan Amara yang terus berseru menyuruh menepi. Syeira tidak peduli dan terus mempercepat
langkahnya. Namun, ia tidak menyadari bahwa Amara meperingatkannya. Setelah sadar akan bahaya,
Syeira menoleh kekanan dan mendapati bahwa mobil jeep sedang melaju kencang kearahnya.
Syeira saat itu benar-benar syok dan tida bisa bergerak. Keringat deras mengalir. Ia benar-benar tidak
bisa bergerak. Mobil jeep itu membnyikan klakson dengan keras. Syeira yakin. Inilah akhir.
“SYEIRA AWAS!”
Seseorang mendorongnya ke pinggir jalan. Dan sedetik kemudian darah segar mengalir di jalan.
Syeira yang syok membuka matanya dan melihat dengan jelas. Amara. Dia tergeletak tak berdaya.
Kepalanya tertutup darah. Gaun emasnya berubah warna. Syeira menggeleng-gelengkan wajahnya.
“Tidak.Tidak. Tidak. Ini tidak terjadi. AMARA!” Syeira langsung mendekap tubuh Amara. Ia
menangis sejadinya.
“APA YANG KAMU LAKUKAN? Kamu mau bunuh diri hah?!” Syeira menggenggam erat tangan
Amara.
Tiba-tiba Amara tersenyum meski penglihatannya begitu pudar. “A..ku s...senang..ka...mu...b..ba..ik
sa...ja....Ooo ya...h..ha..py an....ni..ver...sary....aku ingin....terus...bersa...habat....dengan....mu.”
Amara menaruh sebuah kalung berliontin ungu di tangan Syeira. Ia tersenyum manis.
Syeira menggenggam kalung itu kuat“Amara...aku mohon jangan begini...” isak Syeira. “Kau harus
bertahan kawan..”
“Sayonara, Syei...” mata Amra tertutup. Denyut nadinya tidak terasa lagi. Amara udah tidak ada lagi.
Syeira menangis histeris dan mencoba membangunkan Amara.”Amara...jangan bercanda. AMARA.
Tidak...Amara” Syeira memeluk erat sahabatnya itu membauat orang yang melihat ikut bersedih.
Hujan mengguyur pemakaman sore itu. Batu nisan bertuliskan nama Amara itu terlihat bersih. Wangi
aroma bunga pun masih tercium. Syeira tersenyum dengan mata sembab.
“Amara, aku benar-benar minta maaf padamu. Harus nya aku percaya denganmu.” Ucap Syeira
dengan senyum tipis.
“Amara maafkan aku, ini semua salahku. Maaf maaf maaf.” Ucap Kaira dengan tangisan kecil
“Tidak apa...tidak ada yang tahu kapan dia tiada. Semua itu takdir. Amara, selamat ulang tahun, dasar
jahat. Kamu meninggalkan ku disini dasar. Aku akan tetap menjaga persahabatan kita.”
Syeira dan Kaira menempelkan sebuah kertas kecil dengan pesan mereka masing-masing.
“Aku akan menggantikan posisi mu dan menjaga Syeira. Tenang ya!” ucap Kaira.
Syeira mengembuskan nafas pelan.”Sayonara my best friend Amara...”

 

------------------------ #KamisMenulis

Sumber ilustrasi gambar : Kisah Persahabatan Dua Gadis | Intisari

Comments

Leave A Reply