"BERBEDA"
Cerpen oleh : Saskiya Inayatul Latifah
Siswi MTs NU 29 PATEAN
“Assalamualaikum, Sep“ Dia Alghifari, remaja tampan keturunan Jawa, berkulit sawo matang dan memiliki postur tubuh yang bagus.
Septian menoleh ke belakang “wa’alaikumssalam, Bi” Ini Septian Dwi Ananta atau yang kerap dipanggil Asep. Remaja berdarah sunda ini adalah sahabat Abi . Dengan logat Sunda yang masih
melekat pada diri Asep, ia menjawab salam dari dari Abi.
Abi terkekeh lalu merangkul pundak Asep uang lebih pendek darinya
“Tumben berangkat pagi ?” tanya Asep
“Ngomong-ngomong maneh teh gak bareng Valen ?” tanya Asep
“Ndak tuh, kayaknya berangkat telat” jawab Abi
Abian dan Asep sudah sampai di kelas mereka , kelas 9B . Sekedar informasi mereka bersekolah di SMP Merah Putih.
“Hallo kawan. Lama gak ketemu ya” Itu Dita , Dita Puspita. Cewek Hindu berdarah Bali ini memiliki wajah yang sangat cantik , tapi tidak dengan sifatnya. Abian dan Asep hanya tersenyum membalas sapaan Dita.
“Weh Asep, makin gendut aja lo. Nah kan baru juga dibilang, udah keluar sifat aslinya.
“Dita ! gak boleh gitu lo. Harus saling menghargai” Abian membela Asep
“Iya maaf , baperan lo” jawab Dita ketus.
“Pagi guys. Apa kabar ?” Ini Valencia Christian, atau Valen. Gadis bermata sipit keturunan Chinese ini merupakan sahabat Abian, Asep, dan Dita. Wajahnya tak kalah cantik dengan Dita, tapi
sifat mereka berbanding terbalik. Valen itu orangnya kalem dan ramah.
“Eh neng Valen , makin geulis aja. Alhamdulillah kita sehat” jawab Asep sedikit memuji Valen.
Valen tertawa mendengar pujian Asep
“Syukurlah deh kalo sehat . Eh...Dita , kenapa diem aja?”
Dita menoleh “Hah... Gapapa kok”
Para siswa dan siswi mulai berdatangan memasuki kelas setelahnya pembelajaran pun dimulai Jam istirahat telah tiba, jam ini adalah waktu yang di tunggu-tunggu oleh semua siswa. Abian bangkit dari kursi duduknya lalu menghampiri Asep
“Ayo Sep ke kantin” ajaknya kepada Asep.
“Bentar Bi, bareng Valen sama Dita sekalian”
“Oke” Valen dan Dita berjalan ke arah Abi dan Asep.
“Asep. Gue minta maaf ya” Ujar Dita merasa bersalah
“Iya , udah gue maafin kok. Dita mah kayak gak kenal aa’ Asep aja”
Mereka tertawa mendengar penuturan Asep .Ini yang membuat mereka nyaman bersahabat dengannya karena orangnya pemaaf dan rendah hati
“Udah ah, katanya pengen ke kantin” ajak Asep
Mereka berempat berjalan ke kantin karena sudah lapar. Suasana kantin cukup ramai hari ini, hingga semua siswa rela berdesak-desakkan demi mendapatkan tempat duduk .
“Akhirnya kita kebagian tempat duduk”. Kata Dita
“Tumben banget kantin serame ini” Ucap Valen
“Leu mah satu sekolahan ke kantin semua” Jawab Asep
“Iya nih, kayaknya kekantin semua sak sekolahan” Timpal Abi
Mereka terus bercerita tentang segala hal sampai pesanan mereka datang.Seorang ibu-ibu paruh baya datang membawa pesanan Abi, Asep, Valen dan Dita.
“Ini pesanannya nang, nduk” kata sang ibu menggunakan logat Jawa
Abian tersenyum “Matursuwun Buk”
Dita terkekeh “Kelihatan banget Jawanya”
“Ya gapapa dong yang penting sopan. Lagi pula gue ke Jakarta juga belum lama” Balas Abi
“Udahlah daripada ribut mending makan , ai dah laper” lerai Valen.
Mereka berdoa menurut keyakinan masing-masing lalu makan
“Eh... kan ada tugas kelompok nih, mau ngerjain dimana?” tanya Abi
“Gimana kalau ke cafe aja? Kan enak tuh bisa sekalian makan” usul Dita
Asep menoleh “Aing teh lagi gak punya duit” kata Asep
“Yaudah di rumah aa’ Asep aja” kata Valen
Dita mengernyitkan keningnya “Jangan dong, gak luas jadi gak enak nugasnya”
“Dita ! Kebiasaan ih !” kesal Valen
“Udahlah gapapa” ujar Asep. Sebenernya ia sedikit sakit hati pasalnya sedari tadi pagi Dita selalu begitu, ya walaupun dari dulu Dita seperti itu tapi kali ini sudah keterlaluan.Tapi mau bagaimana lagi, perkataan Dita memang benar semua. Asep berasal dari keluarga sederhana, kedua orang tua Asep berkerja sebagai buruh pabrik yang gajinya tidak banyak tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
“Oke deh gini aja , di rumah ai mau gak?” tawar Valen
“Gue aja deh. Bunda masak banyak , tapi orang rumah lagi pada pergi. Bisa sekalian makan dirumah gue” ujar Abi
“Oke deh, abis pulang sekolah langsung aja” jawab Valen di setujui ketiganya.
Tak terasa bel masuk telah berbunyi, lalu mereka segera bergegas pergi ke kelas.
Di dalam kelas ada Pak Arya yang sedang menerangkan materi tentang toleransi. “Toleransi adalah sikap saling menghargai dan menghormati sesama manusia. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda . Perbedaan tersebut bisa menjadi kekuatan bila dipandang secara positif” ujar Pak Arya panjang lebar.
“Toleransi juga dapat membantu melatih seseorang memiliki rasa Empati. Empati adalah sikap memahami apa yang di rasakan orang lain dengan membayangkan diri sendiri berada pada posisi tersebut tanpa memandang perbedaan , seperti beda agama, suku, miskin dan kaya dan lain sebagainya.”
Harusnya saat Pak Arya menerangkan materi tadi Dita bisa sadar akan sifatnya yang bisa dibilang jauh dari kata toleransi , tapi sayangnya Dita malah tertidur pulas tanpa di sadari oleh Pak Arya.
Saat ini Abi, Asep , Valen dan Dita sudah sampai di rumah Abi untuk melaksanakan kerja kelompok yang sempat mereka bahas di kantin tadi.
“Duduk dulu biar gue siapin makanannya” Titah Abi kepada tiga temannya
“Biar gue bantu ya , Bi” kata Asep diangguki oleh Abi
Dita duduk di samping Valen mengendus sebal.
“Emang kenapa sih?, kok lo kayaknya pilih-pilih banget kalo mau temenan” tanya Valen heran
“Enak aja temenan sama yang sederajat” jawab Dita dengan santai
“Terus? Kenapa lo mau temenan sama Asep?” tanya Valen lagi
“Ya karna temenan sama Asep nyaman , enak aja gitu”
“Iya enak bisa lo hina sepuasnya” batin Valen kesal
Abi menyampiri Valen dan Dita
“Ayo makan dulu” ajak Abi di iyakan oleh keduanya,mereka berdua mengikuti Abi ke ruang makan. Sedikit informasi, Abi berasal dari keluarga yang sangat berada. Ayahnya, yaitu Adrian berprofesi sebagai seorang pilot sedangkan bundanya, yaitu Naya adalah seorang desainer dan memiliki butik yang cabangnya cukup banyak . Abi juga memiliki kakak bernama Airin yang berstatus sebagai pelajar di kampus ternama yang ada di kota tersebut . Kembali ke acara makan siang mereka, kini mereka berempat telah selesai makan siang dan sudah ada di ruang tamu kembali.
“Makasih makan siangnya , Bi. Makanannya teh meuni enak pisan euy” kata Asep dengan wajah gembiranya
Dita terkekeh “Ya iyalah orang itu makanan mahal” kata Dita dengan senyum mengejek.
Asep ? ia hanya mampu tersenyum kaku serendah itukah dirinya?
“Abi yang menyadari raut wajah Asep langsung mengalihkan pembicaraan
“Ayo mulai kerjain tugasnya aja” kata Abi.
“ Udah adzan Bi, ayo sholat ashar dulu” ajak asep pada Abi
“Oh.. ayo kita ke masjid dulu ya” pamit Adi kepada Valen dan Dita
“Eh bentar dulu, ini tugasnya gimana? Ditunda dulu gak bisa emang?” itu Dita memang kebanyakan protes orangnya
“Ya gabisa gitu, Dita.. keburu waktu ashar abis” jawab Valen
“Tuh kan, Valen aja tahu” sahut Abi
“Tugasnya teh bisa dilanjut nanti, palingan kita cuman 10 menit” kata Asep. Memang benar ucapan Asep, jarak rumah Abi ke masjid memang tidak jauh
Dita menghembuskan nafasnya kasar
“Huftt.. iya deh “setelah Asep dan Abi berangkat untuk menunaikan ibadah ke masjid Waktu terus berjalan dan sore pun berganti menjadi malam, Asep meletakkan piring yang telah dicuci bersih.
“Kumaha sekolahna a’?” tanya Lilis kepada Asep, anaknya
Asep menoleh ke arah Lilis “tue kunaon, mak” jawabnya sambil tersenyum
“Leres pisan? Tong bohong sama emak”
“Saleresna atuh, mak”
“Mun anjeun boga masalah, ulah nyimpen eta sarangan cerita sama emaknya?” Nasehat Lilis diangguki Asep
“Bapak kemana, mak?” tanya Asep lantaran tak melihat bapaknya ikut pulang
“Anjeun masih digawe, balik ka imah isukan” jawab Lilis
Asep hanya mengangguk paham lalu pamitan kepada ibunya untuk masuk kedalam kamarnya.
Dikamar ia hanya merebahkan tubuhnya lalu menatap lurus ke atas.
“Dita kunaon? Naha sukanya ngehina aing?” monolognya sambil mengingat-ingat perlakuan Dita terhadap dirinya. Asep menepis pikiran buruknya “ulah kitu ah, nu nyaho si Dita aya masalah
dirumah”.
Di sisi lain ada seorang gadis yang termenung didalam kamarnya, pikirannya berkelana entah kemana memikirkan masalah-masalah yang menganggunya, gadis itu adalah Dita. Dita punya
masalah? Semua orang pasti punya. Hubungan Dita dengan kedua orang tuannya kurang baik, itu masalahnya. Orang tuanya yang selalu membanding-bandingkan dengan Vita, adiknya sendiri.
Tidak hanya itu, Dita dituntut untuk bisa menjadi apapun yang orang tuanya inginkan. Hal ini yang membuat Dita menjadi orang yang ampuh dan sombong. Perlakuan kudua orang tuanya menjadikan
Dita pribadi yang ingin menang dalam segala hal, menyombongkan apapun itu, dan bersifat seenaknya kepada siapa saja. Mengambil ponsel kemudian menyalakannya guna melampiaskan
kesedihan itu. Karena tak ada yang menarik ia memilih untuk keluar dari kamarnya.
“Kenapa kamu keluar? Bukannya belajar! Liat tuh adek kamu, dia rajin gak kaya kamu!” kata Nita selaku mama Dita. Baru juga keluar sudah disambut dengan ucapan mamanya yang menyakiti
hati.
“Ayolah ma, aku dari pulang sekolah udah belajar”. Aku capek belajar terus hanya itu yang
mampu Dita ucapkan karena ia tak mau melewati batas
“Capek? Lebih capek mana sama papa dan mama yang tiap hari bekerja untuk kamu? Gitu doang udah capek, coba sekali lagi saja kamu contoh Vita” sarkas Nita, Dita menahan emosinya “kenapa
sih mama selalu bandingin aku sama Vita!?”
“Vita bisa mama banggakan, dia berprestasi, bakatnya juga banyak!” jawab Nita emosi
Dita mencoba untuk bersabar “terserah mama, Dita gak peduli”
Dita segera mencekal lengan Dita yang ingin pergi menuruni tangga
“Mau kemana kamu? Masuk!” tangan Dita diseret kembali ke dalam kamar, dengan tangannya Nita mengunci Dita didalam kamar. Dita hanya bisa pasrah karena sudah terlalu sering dia protes
tapi Nita seakan tidak mendengarnya dan akan menguncikan sampai besok pagi.
Pagi yang cerah serta kicauan burung menemani Abi menjalani aktifitasnya bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Menenteng tas hitamnya lalu keluar dan menuruni tangga menuju ruang
makan, ada bundanya dan kakaknya yang sedang menyiapka sarapan.
“Sini bi, sarapan dulu baru berangkat” kata bunda
Abi mengangguk lalu menarik salah satu kursi dan mendudukinya
“Ayah ndak pulang bun?”
“Ayah pulange ntar siang. Oh iya, nanti berangkat bareng kakakmu ya”
Abi mengiyakan perintah bundanya “tapi nanti jemput Asep sekalian ya!”
“sipp, pulangnya kakak jemput juga” jawab Airin
Selesai sarapan, kakak beradik itu masuk kedalam mobil, Airin yang akan menjalankan mobilnya. Mobil melaju kerumah Asep yang letaknya tak jauh dari komplek perumahan yang Abi
tempati. Mobil sudah sampai di pekarangan rumah Asep, Abi turun bersama Airin lalu mengetuk pintu rumah Asep.
“Assalamualaikum, bu” Ucap Abi melihat Lilis keluar rumah sambil tersenyum
“Waalaikumsalam, aya si ganteng sama teteh geulis. Sakedapan , ibu nyauran si Asepn na”
Asep keluar sudah siap dengan seragamnya “oh, Abi sama teh Airin”
“Yaudah sep, aya berangkat” ajak Abi
Asep mengangguk “Mak, berangkat ya. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, sekolah yang pinter nya’, ati-ati bawa mobilnya neng geulis”
“Keluarga Abi meuni bageur pisan” ujar Lilis terharu
Airin menurunkan Abi dan Asep di halte yang berhadapan dengan SMP Merah Putih lalu keduannya masuk ke area sekolahan, masih sedikit siswa yang sudah berangkat karena masih jam
06.14. Abi dan Asep melewati koridor kelas untuk ke lantai tiga dimana letak kelas mereka berada.
Di lantai dua mereka bertemu dengan Valen yang sedang bercengkrama dengan adek kelas.
“Morning guys” sapa Valen kepada Abi dan Asep
“Pagi juga neng geulis” jawab Asep
Abi menjawab “pagi juga cah ayu” jawab Abi sembari tersenyum
Valen mengerutkan keningnya, “cah ayu? Apa itu?” tanyanya bingung
“Cah ayu itu anak cantik, ini bahasa jawa” jawab Abi
Valen mengangguk paham
“Ayo keatas bareng ajak Valen dan mereka berdua setuju”. Sesampainya dikelas ternyata Dita belum berangkat, itu menimbulkan tanda tanya dibenak ketiga kawannya tersebut.
“Dimana Dita? Tumben belum berangkat” ujar Asep
“Bentar deh, ai telpon aja” ucap Valen
Sudah tiga kali tetapi panggilan tidak jawab oleh Dita
“Ini Dita kemana sih?” gerutu Valen
Abi bangkit dari duduknya “mungkin ponselnya mati kalo nggak mungkin dianya masih tidur, kita tunggu di koridor aja” usul Abi diiyakan keduanya.
10 menit menunggu akhirnya Dita datang juga, tetapi agak aneh kali ini Dita datang dengan mata sembab
“Loh Dit, kenapa?” tanya Valen, Abi, dan Asep jelas bingung
“”Kaya’nya teh Dita aya masalah” sahut Asep
“Coba kita susul aja” ujar Valen
Ketiganya berjalan mendekati Dita “Lo kenapa Dit?” tanya Valen dengan nada lembut
“Gue bilang gapapa ya gapapa! Kenapa sih tanya mulu!”
Dengan pandangan sinis Dita membentak Valen
Apakah Valen takut? Tidak “Maksud lo apa?” ai bermaksud baik buat tanyain keadaan lo, malah sewot gajelas!” balas Valen
“Ya lo ngapain kepoin urusan gue!?” lagi-lagi Dita menjawab ucapan Valen dengan nada emosi.
Valen tersenyum sinis “kepo? Terserah deh Dit, ga peduli ai” setelah itu Valen pergi ke mejanya, duduk tenang lalu membuka ponselnya, entah main apa yang jelas tidak berurusan dengan Dita,
kenapa sampai seperti itu? Padahal Valen hanya menanyakan keadaannya.
Abi dan Asep bingung harus bagaimana, jadi keduannya memilih untuk mendekati Valen terlebih dahulu mengingat bahwa tadi Dita membentak Valen tanpa sebab.
“Tahan emosi lo” ucap Abi kepada Valen
Valen meletakkan ponselnya. “Ga bisa Abi dia bentak ai, ai ga terima ya. Ai bales” gerutu Valen
“Valen teh kaya tau Dita aja”
“Iya, ai tau dia kaya apa, tapi... dahlah biarin aja” kesal Valen
Kini Asep sedang dikantin ingin makan, lebih tepatnya ia ingin meluruskan kesalah pahaman antara Dita dengan Valen tadi. Matanya menelisik penjuru kantin hingga tak lama ia
menemukan orang yang ia cari.
“Punten, boleh duduk sini?” tanya Asep pada Dita yang sedang duduk sendirian. Ya, Asep mencari Dita. Dita melirik sekilas kearah Asep
“Duduk aja” jawabnya datar
Asep duduk dihadapan Dita “Maneh kunaon? Lagi sakit ya?” tanya Asep hati-hati takut jika Dita akan emosi seperti tadi pagi
“Ada masalah kecil dirumah” Dita sedikit membohongi Asep
Asep manggut-manggut paham “kalo ganjel dihati, mau cerita ke aing teh gapapa, tapi kalo ga
mau yaudah”
Dita menoleh kearah, ia butuh tempat curhat
Gue ga suka sama Valen, gara-gara dia gue selalu dimarahin mama. Selain sama adik gue, mama juga banding-bandingin gue sama Valen. Katanya Valen itu pinter gak kaya’ gue yang bodoh
ini, katanya Valen cantik, berbakat bisa membanggakan orang tua, mama tau itu karena ternyata orang tua kita itu temenan, dan orang tuanya Valen selalu cerita semua keberhasilan Valen kepada
mama gue. Asep agak kaget mendengarnya, ia kira keluarga Dita baik-baik saja.
“Kalo boleh kasih saran, maneh harusnya ga marah sama Valen, disini Valen ga tau apa-apa”. Dita terkekeh sinis.
“Gue tau lo mau belain Valen karena dia baik sama lo kan?”
“Teu kitu maksudnya, Valen itu gak tau apa-apa maneh harusnya jadiin ucapan-ucapan dari tante Nita motivasi. Buktiin semua omongan tante Nita gak bener. Bukannya malah marah-marah sama
Valen, maksud dia teh baik nanyain keadaan urang”
Dita mencerna baik-baik ucapan Asep, ada benarnya juga, tidak sepatutnya ia seperti itu, sekarang ia jadi merasa bersalah,
“Iya, gue udah keterlaluan, makasih udah ingetin, maaf juga buat selama ini karena gue udah sering hina lo, pdahal lo orangnya sebaik ini” ujar Dita menyesal.
“Valen! Sini!” Panggil Asep, Valen dan Abi mendekatinya. Valen tersenyum “it’s ok, udah dimaafin”.
“Nah, gini kan enak” sahut Abi
Dita tersenyum, “sekali lagi maafin gue ya” kata Dita tulus. Seperti itulah persahabatan yang tulus, selalu ada suka maupun duka, tawa dan kesedihan. Adanya kejujuran, saling melengkapi,
saling mengingatkan. Bila ada yang salah, itu hanya sebuah seni dalam persahabatan.
Comments