Posted by : Admin Dinarpus

  • 19 Juni 2025

SAHABAT SELAMANYA

Cerpen karya : AFRIDA ERLY ARYANI

Siswi MTs  Darus Islah

 

Namaku Nina Sheilda. Aku mempunyai seorang adik bernama Arina Fatimah. Aku juga
memiliki empat orang sahabat. Namanya Lili, Wati, Fira, dan Zara. Aku bersahabat dengan mereka hampir sembilan tahun. Kami bersekolah di sekolah yang sama, yaitu SD Pelita. Sekarang aku berada di kelas II (dua).
Suatu hari, di sekolahku ada sebuah kejadian yang memunculkan permasalahan.
“Fira!”, panggil Wati.
“Ada apa Wati”, tanya Fira.
“Yuk kita bermain di luar”, ajak Wati.
“Kita mau main apa?”, tanya Fira pada Wati.
“Udahlah, ayo kamu ikut aku aja”, ucap Wati.
“Baiklah, ayo Wati”, ucap Fira.
Akhirnya mereka bermain bersama-sama. Saat sedang bermain Wati tersandung batu dan
tanpa sengaja Wati mendorong Fira. Alhasil Fira pun terluka.
“Aduh, Wati!”, Fira meringis kesakitan.
“Maaf Fira aku tidak sengaja”, ucap Wati meminta maaf pada Fira.
“Hiks … hiks …”, Fira menangis.
“Maaf Fir, aku tidak sengaja, maaf ya”, ucap Wati.
Kemudian aku dan beberapa orang yang ada di sana membawa Fira ke UKS.
“Assalamu’alaikum”, Lili dan aku mengucap salam berbarengan.
“Waalaikumussalam”, jawab Bu Siti.
“Ada apa ini?”, tanya Bu Ika.
“Ini Bu, Fira tadi terjatuh”, Lili menjelaskan kejadian tadi.
“Bawa Fira ke kasur!”, perintah Bu Siti.
Fira pun dibawa menuju ke kasur dan mulai diobati. Fira terluka di bagian dahi dan bibir. Bu
Siti dan Bu Ika sedang mengobati Fira. Kami pun menunggu di luar ruang UKS. Wati menangis
karena kahawatir akan terjadi sesuatu pada Fira.
“Nina dan Lili kalian tolong panggilkan Pak Ahmad ya suruh ke sini”, perintah Bu Ika.
“Baik Bu”, kami pun mengiyakan. Kami pun bergegas menuju ke kantor.
***


Di kantor kami bertemu dengan Pak Budi. Pak Budi yang mencarikan Pak Ahmad. Aku dan
Lili menunggu beberapa menit. Setelahnya, Pak Ahmad langsung menuju ke UKS.
Pak Ahmad yang baru datang diminta mengantarkan Fira pulang ke rumahnya. Sambil
meunggu Pak Ahmad menyiapkan motor, aku membantu mengambilkan tas dan merapikan buku-buku milik Fira.
Pak Ahmad yang sudah siap segera menaikkan Fira ke motornya dibantu oleh Bu Ika dan Bu
Siti. Aku dan Lili pun berpamitan kepada Bu Siti dan bergegas menuju kelas.
Kami berjalan menuju kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya yang akan dimulai. Saat aku
dan Lili kembali ke kelas kami mendapati Wati sedang menangis di bangkunya.
“Assalamu’alaikum”, kami berdua menyapa.
“Waalaikumussalam”, anak-anak di kelas menjawab salam kami.
Aku dan Lili menuju ke meja Wati. Aku dan Lili berusaha menenangkan dan menghibur Wati,
namun tangisnya tak kunjung berhenti karena dia sangat merasa bersalah atas kejadian tadi.
“Sudah Wati, jangan menangis. Kamu kan nggak sengaja”, bujuk Lili memenangkan Wati.
“Huaaaa ….”, tangis Wati malah semakin keras.
“Gimana kalau nanti kita jenguk Fira nanti?”, usul Nina.
Wati pun diam sejenak kemudian mengiyakan usulku.
“Ya sudah nanti aku jemput kamu. Nina kita nanti berangkatnya bareng ya”, ucap Lili.
Aku dan Wati mengiyakan tanda setuju.
***


Nina yang tiba di rumah langsung mengganti seragam dengan baju harian santai. Kemudian
dia makan siang di dapur.
“Bu, Arin mana?”, Nina menanyakan keberadaan adiknya.
“Adikmu di luar sedang bermain bersama nenek”, jawab ibu.
Setelah selesai menikmati makan siangnya, Ninan meminta izin kepada ibunya untuk
menjenguk Fira.
“Bu nanti aku bboleh menjenguk Fira?”, pinta Nina.
“Memangnya Fira sakit apa Nin?”, tanya Ibu.
Nina menjelaskan kepada ibunya.
“Jadi, tadi kan saat aku sama kawan-kawan lainnya sedang bermain. Wati tersandung batu
dan tidak sengaja Fira terdorong. Jadinya Fira ikut terjatuh”, terang Nina.
“Tentu boleh. Sama siapa jenguk Firanya?”, ibu bertanya lagi.
“Sama Lili dan Wati”, jawabku singkat.
Ibu mengizinkan kami menjenguk Fira tetapi tidak boleh lama-lama. Setelah salat Dzuhur,
Lili dan Wati sudah menjemputku di luar. Nina berpamitan pada ibunya dan mencium tangan ibunya.
***


Aku dan teman-teman berangkat menuju rumah Fira. Rumah Fira tidak terlalu jauh dengan
rumahku. Tiba-tiba Wati teringat sesuatu. Rupanya kami lupa membawakan oleh-oleh untuk Fira.
Aku pun menawarkan diri untuk membeli oleh-oleh di sebuah toko yang kami lewati.
“Ya sudah kita beli di situ saja”, ucapku sambil menujuk sebuah toko.
“Aku nggak bawa uang”, ucap Wati.
“Ya udah pakai punyaku aja”, jawab Nina.
“Tidak apa-apa Nin?”, tanya Wati.
“Nggak apa-apa kok, ayo kita ke toko”, jawabku.
“Lili bawa uang nggak?”, tanyaku ke Lili.
“Bawa kok”, jawab Lili.
Aku dan teman-temanku menuju ke took dan membeli oleh-oleh untuk Fira.
Kami pun tiba di rumah Fira. Ibu Fira menyambut kami di depan rumah. Ibu Fira
mengantarkan kami menuju kamar Fira.
“Hai Fira”, Wati yang menyapa Fira.
“Hai juga kawan-kawan’, jawab Fira.
“Gimana keadaanmu Fira?”, tanyaku.
“Udah mendingan”, jawab Fira pendek.
Aku dan teman-teman langsung menyerahkan oleh-olehnya dan memberikan doa serta
semangat pada Fira agar lekas sembuh.
Wati meminta maaf atas kejadian yang menimpa Fira. Tak lama kami di rumah Fira kami pun
berpamitan pulang.
***


Tak terasa sudah dua tahun berlalu. Aku sudah kelas IV sekarang. Di ini aku kedapatan murid
baru pindahan dari Kalimantan.
Pak Tio yang datang ke kelas kami menyilakan murid baru tersebut mengenalkan dirinya di
hadapan kami.
“Hai teman-teman, perkenalkan namaku Zara Fitriya. Aku biasa dipanggil Zara. Aku murid
pindahan dari Kalimantan. Semoga kita bisa berkenalan. Salam kenal semuanya”, Zara mengenalkan diri pada teman-temannya.
“Salam kenal juga Zara”, jawab murid satu kelas.
Zara mencari tempat duduk. Wati mengajak Zara duduk bersamanya. Pak Tio melanjutkan
pelajarannya.
“Hari ini kita pelajaran matematika ya”, ucap Pak Tio.
“Siap Pak”, jawab sekelas kompak yang hanya berisi sebelas murid.
Zara menjadi murid ke-11 di kelasku. Kami melanjutkan pelajaran matematika dengan
senang. Setelah beberapa jam belajar, bel istirahat berbunyi. Semua murid berhamburan ke luar kelas dan menuju ke kantin untuk membeli jajanan.
Selesai membeli jajan di kantin, aku dan empat orang temanku bergegas menuju ke kelas.
Menikmati jajan sambal ngobrol bersama.
“Zara, kenalin namaku Liana Novi. Biasa dipanggil Lili”, Lili mengenalkan dirinya.
“Oh iya. Kalau kamu?”, tanya Zara sambal menunjuk ke arahku.
“Namaku Nina Sheilda. Biasa dipanggil Nina”, jawab Nina.
“Kalau yang ini?”, tanya Zara sambal menunjuk ke arah Fira.
“Namaku Nafira Lana. Biasa dipanggil Fira”, jawab Fira.
“Semoga kita bisa berteman dengan baik ya”, ucap Zara.
“Iya”, jawab kami serentak.
Kami pun melanjutkan makan jajanan.
“Kalian mau bekalku nggak?”, Fira menawarkan bekalnya pada teman-teman lain.
“Wah. Mau dong”, ucap Wati antusias.
“Boleh. Boleh ini”, jawab Fira sambal membagikan bekalnya.
“Wah enak banget makanannya”, ucap Wati.
Tidak terasa jam istirahat sudah berakhir. Pelajaran berikutnya sudah menanti. Pelajaran IPA
3 JP bersama Pak Tio.
***


Jam pelajaran IPA selesai. Aku, Lili, Wati, Fira, dan Zara berjalan menuju tempat wudhu
sambal berbincang bincang.
“Nanti kita mengerjakan PR-nya berkelompok saja”, ajak Zara.
“Boleh, tapi di rumah siapa?”, tanya Lili.
“Di rumahku saja”, usul Wati.
“Baiklah. Nanti sepulang sekolah ya”, jawabku.
Yang lain juga mengiyakan tanda setuju. Kami pun berwudhu dan masuk ke mushala sekolah
untuk melaksanakan salat Dzuhur berjamaah. Selesai salat, kami kembali menuju kelas, berkemas-kemas, berdoa, dan pulang.
Sampai di rumah, aku langsung mengambil nasi dan beberapa lauk untuk makan siang.
Selesainya makan siang aku meminta izin pada ibu.
“Bu, nanti aku mau belajar kelompok di rumah Wati. Boleh Bu?”, pintaku pada ibu.
“Boleh. Hati-hati ya. Jangan mampir-mampir”, jawab ibu sekaligus berpesan.
Aku langsung menyiapkan barang yang akan kubawa belajar kelompok di rumah Wati. Tiba
tiba Fira datang menghampiriku. Aku dan Fira pun berjalan menuju rumah Wati. Kami lebih duluan sampai di rumah Wati. Zara dan Lili belum sampai.
Wati sudah menyiapkan menu pisang kapok goring dan the hangat. Sambil menunggu dua
teman yang belum datang kami mengobrol. Tak sampai sepuluh menit, Zara dan Lili datang. Kami
langsung mulai belajar bersama. Kami belajar kelompok sampai jam dua siang. Kami merencanakan
ikut pengajian di lapangan. Rencananya pengajian diadakan hari Ahad nanti.
***


Hari Ahad pun tiba. Aku, Lili, Wati, Fira, dan Zara menghadiri acara pengajian. Kami
berangkat pukul satu siang. Fira yang menghampiriku. Kami berdua berjalan menuju rumah Wati.
Setelah menghampiri Wati, kami menuju pertigaan sekolah. Lili dan Zara yang mengajak ketemuan di situ ternyata belum datang. Akhirnya kami menunggu sekitar sepuluh menit.
Di lapangan. Saat kami sampai lapangan, pengajian belum dimulai. Sambil menunggu, aku
bersama teman-teman mencari camilan. Banyak sekali penjual berkumpul di tepian lapangan, mulai dari penjual makanan minuman, mainan, dan aksesoris. Wati lewat di depan penjual aksesoris. Dia melihat gelang kembar.
“Kita beli gelang itu yuk, mumpung ada yang kembar lima”, ajak Wati.
Yang lain pun mengiyakan dengan beragam alasan. Karena lucu, sebagai kenang-kenangan,
dan lainnya.
***


Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepatnya. Kami sudah naik di kelas VI dan setahun lagi
kami akan berpisah.
Setiap hari Sabtu sekolahku rutin mengadakan senam bersama. Kebetulan guru senam kami
tidak berangkat. Kata Pak Tio, aku, Wati, dan Lili paling lincah kalau senam. Akhirnya, aku, Wati,
dan Lili disuruh memimpin senam. Selesai kegiatan senam bersama dilanjutkan bersih-bersih
lingkungan sekolah.
Seperti biasa sepulang sekolah aku bersama teman-temanku bermain di lapangan. Banyak
permainan yang kami mainkan, seperti engklek, egrang, sepeda, petak umpet, dan gobak sodor. Aku sangat senang masih bisa bermain bersama mereka. Rasanya waktu berjalan begitu cepat dan sudah masuk Ashar. Kami pun pulang karena harus mengikutin ngaji sore rutin.
***


Sepekan lagi kami akan mengikuti Ujian Nasional. Aku dan teman-temanku belajar lebih giat
lagi agar mendapat hasil yang terbaik. Setiap pulang sekolah kami menyempatkan diri belajar kelompok. Kami belajar dengan sungguh-sungguh supaya mendapat nilai bagus saat ujian.
Serangkaian kegiatan ujian sudah kami lalui. Mulai dari Ujian Nasional, ujian praktik, dan
ujian sekolah. Selesai ujian sekolah mengadakan kegiatan rekreasi ke pantai. Kegiatan ini
dikhususkan untuk murid kelas VI.
Hari Sabtu yang dinanti-nantikan pun tiba. Kami berlima dan teman lainnya sudah berkumpul di halaman sekolah. Guru-guru juga sudah berkumpul. Tujuan kami adalah Pantai Cahaya. Perjalanan ditempuh selama dua jam dari sekolah menuju pantai.
Rekreasi di Pantai Cahaya rasanyaangat menyenangkan. Pertama aku bermain di pantai,
dilanjutkan mencoba berenang di kolam renang. Setelah puas berenang aku bersama teman-teman menuju ke mini zoo yang letaknya di samping pantai. Setelah itu kami pergi makan siang dan
berbelanja oleh-oleh.
***


Kami dinyatakan lulus dan diwisuda. Aku dan ketiga temanku melanjutkan ke MTs. Aku
sangat sedih karena harus berpisah dengan teman-teman. Wati dan Bayu akan mondok. Sisanya ada yang melanjutkan ke SMP. Semoga kebersamaan ini akan terulang lagi. []

 

#KamisMenulis

Comments

Leave A Reply