Posted by :

  • 20 Maret 2025

CERITA CERIA

Cerpen karya : Argita Evania Agustin

Siswi SMP N 1 Pageruyung

 

Aku dan Ceria adalah sahabat sejak kecil. Sejak SD kami adalah teman bermain dan
belajar. Kami bersekolah di SD yang sama, rumahku berdekatan di kompleks yang sama
pula. Orang tuaku dan orangtua Ceria juga saling kenal, bahkan jadi dekat seperti aku dan
Ceria. Walaupun bersahabat, aku dan Ceria selalu bersaing untuk meraih prestasi di sekolah.
Setelah lulus SD, aku dan Ceria masuk di SMP yang sama.
Ceria, kamu seperti namamu periang, energik dan lincah. Rambutmu panjang
kecokelatan, mata yang hitam mengkilat saat binar mentari menyapa setiap helai mahkota
kepalamu. Lesung pipimu membuat semua orang senang melihat senyum yang terlukis di
bibirmu. Cewek-cewek di sekolah ini sangat iri padamu.
Selamat, kamu terpilih menjadi Leader of Student . Semua orang memberi ucapan.
Walau sebenarnya mereka tak rela kamu yang terpilih dan kenapa musti kamu, Ceria?
Ceria, kamu sahabatku sejak kita duduk di SD. Aku tahu betul sifat dan karaktermu.
Dulu, kita sama, cewek yang mempunyai sejuta impian untuk diwujudkan.. Menjadi super
model adalah impianmu.
***


“Chie, kamu nggak akan ngasih ucapan selamat sama bestiemu itu?”.
Pertanyaan Sasa membuyarkan lamunanku.
“Eh, kamu, Sa”.
“Ngelamun, ya?”
Tak kuhiraukan pertanyaannya. Aku enggan menjawabnya.
“Hei, kenapa? Mau kemana?”
Aku berlalu meninggalkannya.
“Pulang!”.
“Lho, bukannya acara pengukuhan Ceria sebagai Leader of Student akan segera di
mulai”.
“Lalu?”
Sasa menghampiriku. “Chie, kamu ‘kan sahabatnya. Masa kamu nggak ngasih ucapan
selamat. Setidaknya kontak dia ke ponselnya”.
“Ah, nanti aja, deh. Aku suntuk, nih” kataku ketus.

Kutinggalkan Sasa dan bergegas pulang. Sementara di halaman depan, di aula
terbuka, tampak siswa-siswa berduyun-duyun menyaksikan upacara pengukuhan itu. Kulihat
Ceria berdiri anggun dan cantik.
“Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh teman-teman yang telah
mempercayai dan memberikan suara pilihan kepada saya sehingga saya dapat menjadi
Leader of Student tahun ini. Satu tahun ke depan bukanlah hal yang mudah untuk kita lalui,
tantangan dan rintangan zaman kerap kali membuat kita terlena dan kewalahan. Oleh karena
itu teman-teman sekalian mari kita rapatkan barisan dan juga mari kita harumkan nama
sekolah kita dengan prestasi yang gemilang”. Begitu sambutan Ceria pada upacara
pelantikannya.
Suara tepuk tangan siswa-siswa dan guru-guru sangat meriah.
***

https://simposyandu.com/

https://e-puskesmas.com/

 


Hampir tengah malam, kuberanjak menuju tempat tidur setelah kuselesaikan tugas
tugas kuliahku. Besok aku harus bangun pagi-pagi. Guru IPA siap menembak dengan
pertanyaan-pertanyaan.
Ringtone ponselku berbunyi. Siapa malam-malam begini telepon? Ceria. Oh, tidak!!!!
Aku lupa memberinya selamat.
“Malam, Ria” Sapaku dulu.
“Chie, kamu belum tidur? Maaf mengganggu malamu”.
“Ada apa?”.
“Aku besok kayaknya nggak bisa masuk, ada pemotretan”
“Ya, seperti biasa. Itu ‘kan hobimu”.
“Chie, why you’re so change? Don’t you wanna give me support?”
“Don’t you ask me like that but ask your self!” balasku tajam.
“Kamu ternyata udah berubah. Kamu bukan Cynara yang kukenal dulu” ujar Ceria
kecewa.
“Nggak, aku nggak berubah! Dulu aku Cynara sekarangpun namaku Cynara”
“Aaah, Chie. Kamu pintar. Sudahlah. Selamat mimpi indah” Ceria terdengar
menyerah.
“Rii…Ria”
Ceria menutup poselnya dengan cepat dan aku tak sempat memberi ucapan selamat
padanya.
Ria, andai kamu tahu, aku seperti ini karena aku sayang. Memang menyakitkan. Aku
nggak mau kalau kamu terlalu terobsesi jadi supermodel.

 

Time so flies. Ceria tak lagi duduk di sampingku. Dia sering datang terlambat masuk
kelas. Tak pernah kulihat lagi ia unjuk gigi di dalam kelas. Ketika pelajaran selesai iapun
segera meninggalkan kelas.
“Sa, kamu tahu kegiatan apa saja yang Ria lakukan?” tanyaku pada Sasa yang lagi
duduk.
“Tumben kamu tanyakan bestie-mu itu. Nggak tahu, tuh. Aku bukan ajudanya. Tanya
sana sama Rizal” jawab Sasa sambil mengalihkan pandangannya ke arah Rizal di luar kelas.
Rizal, kakak kelas kami sekaligus teman dekat Ceria. Kuhampiri Rizal yang tengah
asyik bercanda dengan teman-temannya.
“Zal, bisa bicara bentar?”
“Eh, Chie. Ada apa?” Rizal menengok ke arahku dan beranjak dari tempat duduknya.
“Aku pingin tahu tentang Ria?’
“Ria? Emangnya ada apa sama dia?”
“Kamu tahu akhir-akhir ini kegiatan apa saja yang dia lakukan?” tanyaku
“Nggak, tuh. Mana kutahu” balas Rizal acuh.
“Lho, kamu kan pacarnya?’
“Itu dulu, but now it’s over” tegas Rizal.
Aku terhentak kaget. Kenapa Ria tak pernah cerita soal ini?. Seketika teman-teman
Rizal memanahkan matanya padaku.
“Sejak kapan?” lanjutku.
‘Sejak Ceria dinobatkan jadi Leader of Student beberapa waktu yang lalu”
“Ya, itu biasa, Chie. Orang kalau sudah naik daun lupa sama yang di bawah bagai
kacang lupa dengan kulitnya” Sahut Dodi.
“Ya, betul,tuh” sahut yang lain.
“Dia bilang ingin mengejar impiannya dan aku faham betul keinginannya itu.
Mungkin aku akan jadi penghalang baginya” sambung Rizal dengan nada kecewa.
“Aku dengar dia akan pergi ke Jakarta pekan ini untuk mengikuti audisi model” lanjut
Rizal.
“Haah?! Ya, Allah. Sungguh keterlaluan, Ria”
Kutinggalkan Rizal Bersama teman-temannya. Kulangkahkan kaki menuju tempat
parker. Kulihat Beat-nya terparkir tapi aku tak menemukannya.
Beberapa menit kemudian Ceria muncul di hadapanku. Dia menghampiriku
melemparkan senyuman manisnya padaku.

 

“Hai, Chie. Mau pulang? Barengan, yuuk” ajak Ceria.
“Oke. Makasih” kuterima ajakan Ceria.
“Wah, rasanya udah lama, ya kita nggak pulang bareng boncengan seperti ini” Ceria
mengawali percakapan.
“Yess..” kataku.
“Ria, kenapa kamu nggak cerita soal Rizal dan kenapa pula kamu mengikuti kontes
pemilihan model” lanjutku sambil keperhatikan wajahnya.
“Chie, kamu ‘kan tahu keinginanku”
Kami terdiam sejenak dan mengarahkan pandangan ke depan.
“Kapan kamu akan pergi ke Jakarta?”
“Lusa”
“Cepat sekali”
“Ya, lebih cepat lebih baik”
“Dan kamu tinggalkan sekolah?” potongku.
“Ah, hanya sementara. Menggapai cita-cita ‘kan butuh pengorbanan” Ceria acuh
seolah nggak ada beban.
“Ya, memang, tapi kamu mengorbankan sekolah untuk audisi itu” suaraku meninggi.
Semburan pertanyaan itu membuatku dan Ceria sama-sama terdiam hingga akhirnya
tiba di depan rumahku. Kumenunduk dan tak berani menatap Ceria. Kuberlalu
meninggalkannya. Kuberbalik ke belakang, Ceria melirik padaku dan tersenyum tapi aku tak
membalas senyumannya. Kecewa, sedih, marah bercampur menjadi satu.


***
Hari ini Ceria terbang. Ada perasaan bersalah menyelimutiku, karena sebagai teman
aku tak mendukung keinginannya menjadi bintang model. Aku akan kehilangan dia.
Kehilangan Ceria di hari-hariku. Kuingin menghubunginya, just want to say good bye. Ah,
tapi rasanya berat.
“Assalamu’alaikum, Ria”
“Aah, Chie” Ceria menyahut kegirangan.
“Kok, nggak dibalas salamnya”
Upss…wa’alaikum salam”
“Ria, maafkan aku. Aku nggak datang ke bandara”
“Mmm… nggak apa-apa, kamu menghubungiku sudah membuatku senang”
“Ria, hati-hati kamu di sana dan ingat kata-kataku tempo hari”
“Chie, aku akan selalu menghubungimu karena kamu butuh teman”

“Ok, deh. Call me any time if you need a friend
Rasa sedih semakin kuat mendekapku. Tak terasa butiran air mata berjalan menetes di
pipiku.
“Chie, kamu nangis, ya? Jangan sedih, selalu ceria, dong!” Ceria berusaha
menghiburku dan kutahu dia juga sedih.
“Ah, kamu bisa saja”
Tawa kecil tersembur dari mulut kami berdua. Pandanganku menerawang ke pentas
langit. Awan berarak mengiringi kepergian Ceria. Sebuah pesawat melintas. Take care, Ceria.

 

----------- #KamisMenulis

Comments

Leave A Reply